LaaTahzan

July 3, 2010

Jiwa yang Mati (brasa judul lagu)

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — Ka El @ 5:45 pm

Dirangkum oleh ehary dari kajian rutin rabu ceria LaaTahzan dibawah asuhan Ustad M. Rusli Malik, edisi Juni 23, 2010.

Hati manusia itu bisa mati mendahului tubuhnya. (hmm…jadi inget zombie). Siapakah mereka yang mati hati-nya? Mereka yang tertutup hatinya terhadap kebenaran. Mereka yang tidak lagi terbuka untuk hal-hal yang bersifat transcendental, tidak lagi tertarik melakukan ibadah, tidak lagi tertarik terhadap kebaikan social (beramal saleh) dan hidupnya hanya di dasarkan pada dunia; disibukkan oleh urusan dunia, dan segala sesuatu tujuan hidupnya serta-merta hanya “melulu” soal dunia.

Para nabi&rasul di utus ke dunia, untuk menghidupkan kembali “jiwa-jiwa yg mati”. Karena para nabi&rasul itu membawa risalah, sedemikian membawa cahaya dan menerangi, bahkan menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang telah mati. Seperti apa jiwa yang mati? Mereka yang menganggap diri nya besar (contoh mereka yang merasa besar karena harta benda nya, sombong karena pendidikannya, karena kuasa nya, karena pangkat dan jabatannya dan dalam skala besar; Negara yang merasa berkuasa atas Negara lain).

Kekuatan manusia terletak pada merasa lemahnya di hadapan Allah. Dan kelemahan manusia terletak pada merasa kuatnya dia di hadapan Allah. Tawakkal. Adalah kunci dimana penyerahan diri seutuhnya kepada allah (la haula wala quwwata illa billah). Karena apa? Kembali, manusia itu tidak ada apa-apanya. Seluas dan setinggi-tinggi ilmu manusia, tetap Allah yang maha mengetahui dan maha menguasai ilmu.

Kalo kita menilik kecelakaan di gulf of mexico yang terjadi di BP, kita bisa melihat betapa manusia sudah berusaha, menerapkan safety operation di offshore oil operation untuk sebuah perusahaan sekaliber internasional seperti BP, tetap saja manusia bisa teledor menyebabkan musibah terjadi. Dan lihat betapa manusia tidak mampu melakukan apa-apa, dengan efek yang luar biasa besar. Bisa dilihat betapa manusia ini terlampau sangat tidak pantas untuk bersombong diri.

Kalo kita berhasil melakukan segala sesuatu, dan dipandang orang hebat, atau berprestasi, ingat itu serta merta adalah berkat petunjuk Allah, dan kuasa Allah.

Lantas orang-orang seperti apakah yang mendapat petunjuk Allah (tentu atas kehendak Allah)? Dalam surat al-an’aam 125 dijelaskan, bahwa salah satu ciri-nya adalah “..Allah melapangkan dadanya untuk islam..”; Untuk menuntut agama, mengamalkan agama islam, kenapa? Karena islam adalah inti sari dan kunci bagaimana kita bisa menjalankan kehidupan. Dan ciri yang lain, karena lapang dada-nya, biasanya akalnya pun akurat dan jalan, kapabilitas intelektualnya pun meningkat, sedemikian dia pun biasanya argumentatif.

Lantas bagaimana orang-orang yg tidak mendapat petunjuk Allah? Dijelaskan disitu “…Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit..”; (karena semakin tinggi ke langit oksigen semakin tipis, sesak dan sempit napas kita tanpa oksigen..seperti itulah orang-orang yg sesat).

Selamat menjadi jiwa yang hidup dan selamat belajar melapangkan dada, membuka hati, dan senantiasa semangat mempelajari islam, karena apa? Karena kita tidak mau merasa sesak dan sempit, dan karena petunjuk Allah itu teramat sangat kita butuhkan.

Advertisements

August 28, 2009

DALAM AL QURAN, MEMUSUHI TERORISME DAN PENGRUSAKAN KEMANUSIAAN

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — Ka El @ 6:18 am

IMG_2373

Ramadhan tiba. Nggak kerasa udah hampir seminggu. Dan cepat atau lambat kita akan berpisah dengan Ramadhan. Sedih tentunya. Selamat berasik masyuk dengan Ramadhan kepada semuanya. Fokuskan lahir dan bathin untuk menjadi pribadi yang super, pribadi yang taqwa.

Postingan kali ini adalah rangkuman dari bahasan Ustad Muhammad Rusli Malik pada tanggal 27 May 2009 di pengajian LaTahzan.

Tak henti-hentinya memang, islam sebagai agama pembawa kedamaian dicoreng dengan tindakan pengrusakan, dan teror. Tak ayal, pandangan salah dunia luar tentang islam sebagai agama yang brutal pun seolah terbenarkan dengan adanya aksi bom bunuh diri yang mengatasnamakan islam. Sungguh kebetulan, Ustad Rusli telah membahas ayat-ayat dalam Al Quran yang ber -tema penting bahwa islam adalah agama kedamain (anti-terorisme) pada tanggal 27 May 2009, dimana selang beberapa minggu setelah itu (pertengahan Juli 2009), jakarta di teror dengan bom di dua hotel hampir bersamaan. Seolah, kebetulan ini membekali para kader LaTahzan, untuk tetap semangat memperjuangkan nilai-nilai luhur islam yang sebenarnya, yaitu kedamain, keadilan, dan menjunjung tinggi hakekat azasi kemanusiaan. Dengan adanya rangkuman ini, semoga para kader LaTahzan dapat kembali teringatkan. Atau pembaca secara umum, mungkin bisa mengambil sedikit pelajaran.

Di dalam agama islam, hukum-hukum yang berhubungan dengan perlindungan jiwa manusia dalam bermasyarakat ternyata diatur langsung dalam Al Quran. Sumber yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sumber yang tidak ada pertentangan darinya, karena Allah SWT sendiri yang telah mengaturnya.

Maka ketika ada yang bertanya “Dasar apa yang bisa membuktikan bahwa tindakan terorisme itu bertentangan dengan islam?” maka sebagai muslim, yang tidak akan tinggal diam membiarkan citra islam dirusak, menjadi lebih dari keharusan untuk tahu, dan memberikan penerangan dengan bukti-bukti jelas, yaitu merujuk kepada Al Quran.

Jika anda tidak hapal ayatnya, setidaknya anda tau dimana mencarinya dalam Al Quran, yang insya Allah hampir semua muslim punya. Mari kita merujuk ke surah Al Maidah ayat 27 s.d 32. Akan lebih jelas, jika anda bisa membaca sendiri langsung dan mendalami ayat per ayat sampai dengan ayat 40 dari mushaf yang anda punya. Tapi untuk mempersingkat, maka saya akan coba rangkum.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia (yang tidak diterima kurbannya) berkata, ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata (yang diterima kurbannya), ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuhku) dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka. Hal yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. Hawa nafsu (yang tidak diterima kurbannya) menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah. Maka, jadilah ia sorang diantara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (si pembunuh) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata (si pembuhuh), ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu, jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.” (Al Maa’idah:27-31)

Ini adalah ayat-ayat yang menceritakan tentang pembunuhan manusia yang pertama di muka bumi. Lebih dikenal dengan kisah “Qabil dan Habil”, anak-anak nabi Adam a.s. Dimana ini terjadi pada masa awal peradaban manusia, bahkan Allah mengajarkan langsung bagaimana menguburkan mayat dengan mengirimkan percontohan binatang (burung) yang menguburkan bangkai burung lainnya sesaat setelah burung itu mati.

Di sini jelas, ketakwaan Habil yang menjadikan kurbannya diterima Allah SWT, sementara kurban Qabil tidak diterima. Dan iri hati Qabil telah mengobarkan Hawa nafsu dia menjadi menang, bahkan menjadikannya mampu membunuh saudaranya sendiri. Jelas, betapa janganlah kita menganggap enteng tentang penyakit kecil iri hati, dan hawa nafsu kita sendiri. Hawa nafsu yang tidak terkontrol sangatlah berbahaya, bahkan bisa merenggut jiwa seorang yang taqwa sekalipun.

(Syukur Alhamdulillah, Allah SWT memberi kita petunjuk untuk bagaimana kita bisa berlatih mengontrol hawa nafsu kita, yaitu salah satunya dengan berpuasa, tentunya dengan tujuan akhir takwa).

Adalah Habil (yang terbunuh), pribadi yang takwa, sedemikian kurbannya juga diterima. Disini dikisahkan, ketika Qabil mengancam akan membunuhnya, Habil berkata “aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”

Di sini Habil, memilih untuk bersabar dan berserah diri kepada Allah SWT, zat yang menghidupkan dan mematikan, dia takut hanya kepada Allah SWT, dia tidak main hakim sendiri (padahal melakukan pembelaan diri itu boleh, tapi sabar tentu lebih baik, Habil tidak takut akan ancaman, dia malah menjawab dengan hati penuh kelembutan). Karena meski pada akhirnya Qabil berhasil merenggut jiwa Habil, tapi justru Qabil yang merugi, karena dia membiarkan hawa nafsu nya menguasai, dan berbuat zalim.

Dari ayat di atas, bisa dilihat bahwa Allah mengutuk pembunuhan, dan sebaliknya dilukiskan contoh indah pribadi yang penuh ketenangan, kecintaan akan kedamaian, dan ketakwaan bahkan pada saat-saat genting sekalipun. Itulah, pribadi takwa yang diharapkan dimiliki setiap muslim. Memiliki perkataan yang dapat meredakan dendam, memadamkan kedengkian, meredakan keinginan jahat. Tapi meski demikian, saudara yang saleh ini memberikan peringatan “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuhku) dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka. Hal yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim” (Al Maa’idah: 29)

Berikutnya, dalam Al Maa’idah ayat 32, Allah SWT lebih menegaskan tentang hukum kemanusiaan ini.

Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan, barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudia banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi” (Al Maa’idah:32)

Meski redaksinya ditujukkan kepada Bani Israil (saat itu), tapi tentu nilainya tetap dan berlaku umum. Di sini lebih jelas ditekankan, betapa pembunuhan apa pun, diluar putusan pengadilan (qisas) adalah dosa yang sangat besar. Disini pembunuhan yang dimaksud (bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi) adalah pembunuhan selain qisas (keputusan pengadilan qisasa atas kasus pembunuhan atau qisas sebagai akibat berbuat kerusakan). Dimana membunuh satu jiwa, sama dengan membunuh manusia seluruhnya. Kenapa? Karena hak hidup itu adalah hak semua manusia, hak bersama yang dimiliki semua orang, maka pembunuhan berarti pelanggaran terhadap hak hidup itu sendiri. Membunuh satu orang, sama saja dengan membunuh seluruh manusia.

Dari ayat ini, dapat dilihat tidak ada yang sangat menghormati nyawa manusia selain orang islam. Maka tidak dibenarkan orang melakukan tindakan terorisme (memakai bom di tubuhnya untuk membunuh orang lain dengan alasan apa pun).

Begitu juga sebaliknya, « Dan siapa yang menghidupkan/menyelamatkan satu jiwa/kerusakan (seperti green peace act, menolong orang-orang tak mampu dll) maka seakan-akan menyelamatkan manusia seluruhnya. »

Disini dikatakan kalo menyelamatkan nyawa satu orang, pahala nya sama dengan menyelamatkan orang seluruhnya, apa alasannya?

Karena agama datang benar-benar untuk menyelamatkan manusia, tidak datang untuk saling mendendam, saling menyakiti. Agama datang untuk menghilangkan itu semuanya, makanya disini benar-benar tegas ditekankan bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh semuanya, dan menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan semuanya. Kenapa demikian?

Lihat Al Baqoroh 213 ; kaanannasu ummatan wahidatan karena manusia itu adalah umat yang satu, yang berbeda-beda itu hanya namanya saja, tapi hakekat kemanusiaan adalah satu. Dan karena umat yang satu, Allah membangkitkan nabi-nabi untuk mempertahankan kesatuan itu. Jadi agama islam itu memang agama kedamaian.

Kalau ada kelompok (yang mengaku islam) yang kerjaannya memfitnah, membunuh, mengajak orang menghancurkan orang lain, dan lantas mengatasnamakan islam, itu jelas-jelas bukan islam.

Lebih lanjut di jelaskan « ..Allah kemudian membangkitkan nabi-nabi pemberi kabar gembira (kalo bersatu dan berbuat kebaikan), peringatan (kalo berpecah belah dan berbuat kerusakan; neraka) maka kemudian allah menurunkan kepada manusia kitab suci yang berisi kebenaran supaya dijadikan hukum untuk menegakkan keadilan di tengah2 manusia atas apa yang diperselisihkan… »

Untuk apa perlu ada hukum? biar tidak saling fitnah. Kalau ada hukum, ada keragu-raguan akan tindakan tidak adil, sebaiknya dilaporkan saja ke pengadilan dan biarkan di selesaikan di pengadilan, jangan lantas bermain hakim sendiri, merusak dengan berdemo sambil membakar kantor-kantor dan merusak rumah-rumah. Tindakan demikian, jelas-jelas bertentangan dengan apa yang Allah SWT telah turunkan dalam Al Qur’an.

Sekali lagi, dari ayat di atas kita bisa simpulkan, betapa islam itu adalah pembawa kedamaian, dan sangat menentang tindakan-tindakan pengrusakan, baik itu pengrusakan alam ataupun pengurasakan terhadap hak-hak hakekat kemanusian.

Marilah kita, senantiasa lebih rajin lagi mempelajari Al Quran. Karena sungguh, nilai-nilainya berbicara, dan terbukti dengan sendirinya saat ini, padahal ia diturunkan lebih dari 1400 taun yang lalu. Adalah kerugian, jika kita tidak mempelajarinya, karena hanya dengan berpegang kepada Al Quran lah kita akan mampu mendapatkan kemenangan di dunia dan juga di akhirat.

Selamat mengisi puasa anda. Selamat berusaha menjadi pribadi yang super. Pribadi yang taqwa.

Jika ada kesalahan, kemungkinan besar datangnya dari saya, yang merangkum. Semoga bermanfaat….

Sumber

1. Muhammad Rusli Malik, Rekaman Pengajian LaTahzan, Jakarta, 27 May 2009

2. Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 3 (Surah An-Nisaa’71-Pengantar Surah Al An’aam), Gema Insani, Jakarta, 2002

Salam, Elin

November 1, 2007

Suksesi LaaTahzan 4

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — laatahzan @ 9:18 pm

Karena kepengurusan yang ke-3 ini akan segera berakhir, maka LaaTahzan akan menyelenggarakan Pemilihan Pengurus Baru.

Kapan ??

Tunggu saja kabar selanjutnya, atau bergabunglah bersama kami setiap hari Rabu, jam 19:00 di Mesjid Departemen Koperasi Kuningan Jakarta untuk mengetahui perkembangan terbaru.

-LaaTahzan-

January 23, 2007

pengajian Rabu,17Jan07

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — laatahzan @ 7:22 pm

assalamu’alikum temans,
berikut ini catatan saya waktu ngaji kemarin.
ringkas banget.
tolong ditambahin atau dikoreksi kalau ada yg keliru ya..

QS 2 : 221
Larangan menikahi laki-laki dan perempuan musyrik, walaupun mereka membuat hatimu takjub. Sesungguhnya budak yang beriman lebih baik daripada mereka.

Kriteria mencari pasangan :
QS 66:5
1. Islam
2. beriman
3. taat pada Allah
4. selalu bertaubat
5. beribadah
6. energik
7. janda maupun gadis /duda maupun perjaka

QS 66 :6
8 .Menjaga keluarganya dari api neraka

QS 66 :11
9. yang tidak mengutamakan hal material
Ayat ini menceritakan do’a istri Firaun, yang mengharapkan perlindungan Allah dari kezaliman Fir’aun. padahal Fir’aun kaya raya.

QS 2 :222
Dilarang berhubungan dengan istri yang sedang haid, sampai mereka suci. Ada dua pendapat mengenai suci disini. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan suci adalah setelah berhentinya darah keluar, pendapat kedua mengatakan yang dimaksud dengan suci adalah setelah mandi.

-intan-

August 3, 2006

HIJRAH

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — laatahzan @ 7:30 pm

catatan Pengajian Rabu, 1 Feb06

Al Anfal (8): 72 – 73
————————————————————————
States of art
Ini adalah ayat yang paling lengkap dalam menceritakan peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah, termasuk mengenai apa yang terjadi di situ, dan apa yang diinginkan Allah sehingga ayat ini diturunkan kepada kita. Mengapa Hijrah masih harus kita bahas dan pelajari padahal peristiwanya sudah berlalu ratusan tahun yang lalu? Pastinya ada pelajaran atau hikmah yang dapat kita ambil.


Ayat 72

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُوْلَـئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن وَلاَيَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُواْ وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلاَّ عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ (sesungguhnya orang2 yang beriman) وَهَاجَرُواْ(dan berhijrah) وَجَاهَدُواْ (dan berjihad) بِأَمْوَالِهِمْ (dengan harta mereka ) وَأَنفُسِهِمْ (dan dengan diri mereka) فِي سَبِيلِ اللّهِ (dijalan Allah) وَالَّذِينَ آوَواْ (dan orang2 yang memberikan perlindungan kepada mereka; memberikan misalnya rumah/akomodasi)وَّنَصَرُواْ (dan memberikan pertolongan kepada mereka) أُوْلَـئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

Background
Ini memberikan penjelasan kepada kita, kalo satu kelompok harus menolong kelompok yang lain. Ini sangat relevan dengan keadaan umat islam kita sekarang di indonesia yang berkelompok-kelompok (NU, Muhammadiyah, Hizbuth Tahrir dll).

Demikian juga halnya dulu di Mekkah dan Madinah. Pada saat itu kelompok yang paling besar adalah Muhajirin dan Anshar, dan yang lebih kecil lagi adalah suku2 arab yang kemudian tergabung dalam Muhajirin dan Anshar. Mereka itu bahu-membahu; sebagian mereka menjadi pelindung/penolong bagi sebagian yang lain.

Inti
Hijrahnya Nabi Muhammad merupakan peristiwa yang sangat besar. Para Orientalis (Barat) tidak habis mengerti, bagaimana sebuah gerakan yang hanya dimulai oleh satu orang saja (Nabi), dari nol, dari dirinya sendiri, yang berada pada lingkungan yang jahiliyah, dalam kurun waktu hanya 13 tahun, mampu mebentuk sebuah peradaban Madaniyah (people society) di Madinah, yang terpancar ke seluruh dunia, dan meredupkan peradaban Persia dan Romawi. Hal serupa tidak pernah ada dalam sejarah sebelumnya. Apa yang bisa dilakukan hanya dalam 13 tahun? Apa kunci keberhasilannya?

Untuk perbandingan, mari kita lihat Indonesia. Apa yang bisa diperbuat Indonesia dalam waktu 13 tahun? Setelah dijajah selama 300 tahun oleh Belanda, kita telah merdeka selama 60 tahun. Tapi jangankan untuk dapat mencapai masyarakat madani, kita bahkan morat marit dengan hutang 1300 triliun. Bahkan kita harus ngutang 78 triliun setiap tahunnya untuk menutup defisit APBN. Bayangkan, betapa tidak terselesaikan masalah kita.

Sementara bila kita ibaratkan Nabi Muhammad mulai berdakwah pada tahun 1990, maka pada tahun 2003 sudah terbentuk masyarakat madani. Yang kemudian perlu dilakukan selanjutnya adalah menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara lain. Maka pertanyaan besarnya : apa kunci keberhasilan tersebut?

Hijrah, dapat diartikan sebagai gerak atau berpindah. Tapi gerak itu harus harmonis, agar terarah, dan dapat melahirkan great effect(dentuman yang besar). Kalo dia hanya sekedar bergerak saja tapi tidak dibarengi harmoni, dia tidak akan melahirkan great effect.
Kalau kita analogikan dengan musik maka karya yang indah dan dapat dinikmati hanya dapat dilahirkan bila ada harmoni antara ritme drum, nada insturment dan lirik vokalnya. Baru itu menjadi indah sekali.

Hijrah nabi merupakan perpindahan dari satu titik ke titik lain yang harmoni dalam pergerakannya. Bagaimana harmonisasi itu dapat tercapai? Kepemimpinan Nabi, dan kepatuhan umat pada kepemimpinannya, dalam wilayah kenabian.
Titik tertinggi seorang yang beriman adalah kepatuhan.

Walupun dia beriman, kalo dia tidak ikut hijrah dengan kami, tidak boleh masuk wilayah kami!! (wilayah kenabian) nah wilayah kenabian inilah yang mendukung terlahirnya harmoni, sinkronisasi sedemikian terciptalah بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ (sebagian bahu membahu menolong bagian yang lain).

Kalo ini diterapkan di sini, di Indonesia, Muhamadiyah, NU, Persis dan lain-lain bahu membahu. Luar biasa efeknya. Bisa meledak sebuah peradaban, melebihi fenomena China sekarang ini.

Intinya sekali lagi di situ penggunaan kata أُوْلَـئِكَ mereka itu berhasil karena
بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ sebagian menjadi penolong bagi yang lain, bukan sebaliknya, bukan sebagian menjadi pencela yang lain.
Padahal saat itu sangat jauh jarak dan perbedaan diantara orang-orang madinah dan mekkah, mereka benar2 plural, diverse, suku2nya sangat berbeda, tapi mereka bisa berbaur, kompak dan bersatu.

Sementara, pembauran antara orang tionghoa dengan orang pribumi di Indonesia masih belum bisa terjadi, walaupun sudah ratusan tahun orang china berada di Indonesia.

Menurut ilmu Sosiologi, diperlukan beberapa tahap/proses sebelum dapat terjadinya asimilasi atau pembauran, yaitu interaksi, tension (ketegangan/konflik/culture of tension), adjustment/penyesuaian (dalam penyesuaian itu terjadi adaptasi), akulturasi dan kemudian terjadilah asimilasi, hingga kemudian terbentuk budaya baru.

Namun pada peristiwa hijrah Nabi, asimilasi langsung terjadi tanpa melalui runtutan tahap-tahap sebelumnya seperti pada teori sosiologi. Bahkan asimilasi yang terjadi sungguh luar biasa, benar-benar sebagian menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Kaum Anshar membagi tanahnya, rumahnya, pekerjaannya kepada Kaum Muhajirin (termasuk, kaum Muhajirin yang belum bawa istri diberikan istri oleh kaum Anshar J). Semua itu terjadi karena adanya kepimipinan yang solider di sini, kepemimpinan Rasulullah saw.

Lanjutan ayat 72

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن وَلاَيَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُواْ وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلاَّ عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

وَالَّذِينَ آمَنُواْ (dan orang2 yang beriman) وَلَمْ يُهَاجِرُواْ (tapi belum mau berhijrah bersama kamu muhammad) مَا لَكُم مِّن وَلاَيَتِهِم مِّن شَيْءٍ (maka kamu tidak berhak/kamu tidak boleh masukkan mereka ke dalam wilayah kamu)

Jadi ada batasan wilayah, atau jangkauan kepemimpinan di sini. Sebagai muslim, kita harus patuh pada Rasulullah agar dapat masuk dalam wilayah kenabian. Bila tidak, maka kita masuk ke dalam golongan مَا لَكُم مِّن وَلاَيَتِهِم مِّن شَيْءٍ (mereka tidak berhak masuk wilayah kamu, sampai mereka mau berhijrah; mau patuh terhadap kamu).

حَتَّى يُهَاجِرُواْ وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ (tapi kalo mereka membantu kamu dalam hal agama, maka kamu wajib membantu mereka); walaupun mereka tidak hijrah إِلاَّ عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ (kecuali atas suatu kaum yang antara kamu dengan mereka ada perjanjian); perjanjian yang menyebabkan mereka tidak usah hijrah وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat).

Skarang kita lihat bahwa penekanan ayat ini bukan pada hijrahnya tapi pada
بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

Ayat selanjutnya (Al Anfal (8): 73)

وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

وَالَّذينَ كَفَرُواْ (Dan orang2 kafir) بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ (mereka juga ternyata bahu membahu); sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Coba lihat kompaknya negara2 pemegang VETO menghukum Iran, kompaknya Amerika dengan Uni Eropa untuk tidak mendukung Hammas (Palestin), begitu Hammas menang, bantuan dihentikan, kira2 begitu lah.

إِلاَّ تَفْعَلُوهُ illa di sini bukan kecuali tapi (jika anda tidak melakukan seperti itu; maksudnya tidak melakukan بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

Disini kita bisa lihat bahwa sekali lagi ayat ini benar-benar menekankan pada saling bahu membahu.

Jika kita lihat sekarang di indonesia, umat islam satu dengan yang lain, saling mencela, saling membid’ahkan.
Contohnya (pengalaman ustad) usai pengajian pernah ditanya “Qunut itu bid’ah atau tidak?”, ustad bingung kok kenapa dia ditanya hal sperti itu, bukannya ditanya masalah “gimana cara mengurangi utang luar negeri indonesia”. Itu adalah pertanyaan yang diperdebatkan 1000 tahun yang lalu, antara maliki dan syafii. Kalo dipertanyakan2 lagi, kapan kita akan berpikir, nanyanya soal2 itu aja terus.
Anggaplah persoalan itu sudah selesai. Kalo sepakat dengan imam syafii, ya sunat muakad, kalo dengan muhammadiyah ya bid’ah. Kita tinggal ikut saja.

Yang harus dipikirkan adalah bagaimana kita membuat pendidikan orang islam ini bagus? kalo nanyanya soal2 itu saja, kapan umat islam ini bisa maju? Anggaplah persoalan itu sudah selesai, titik.

Pertanyaannya seharusnya adalah bagaimana membuat orang islam pendidikannya bagus, ekonominya meningkat, yang dikirim ke luar negeri jangan pembantu tapi yang pendidikannya tinggi?

Tapi itu menunjukkan bagaimana umat islam di kita itu belum maju. Sementara orang2 Amerika meluncurkan pesawat ulang alik tak berawak untuk menangkap debu2 sisa big bang.
Dan juga kemaren kita lihat, para planet hunter menemukan planet baru yang mirip bumi, planet tatasurya lain, yang ditemukan dengan teori pembelokan cahayanya Einstein. Betapa majunya mereka, betapa tertinggalnya kita.
Kita nanyanya masih, Ustad kalo ke bulan kiblatnya ke mana? Ustad kalo sholat tangannya goyang-goyang nggak? Goyang2nya kenceng nggak? Goyangnya kiri kanan, atas bawah, atau muter2? Tidak henti2nya pertanyaannya.

Ironi sekali kita punya masyarakat. Jelas2 masalah real didepannya itu pengangguran, gizi buruk, pembantu rumah tangga diperlakukan dikasari, trafikking di perbatasan. Kok pertanyaannya masalah kumur2 saat puasa.

Islam yang dikembangkan/dipelajari tidak sesuai dengan realitas masalah yang kita hadapi. Islam sekarang tidak memberikan respon terhadap permasalahan sosial. Padahal pada zaman nabi Islam justru sangat respon terhadap problem sosial. Misalnya,ketika ada perbudakan, Islam muncul untuk membebaskan perbudakan).

Intinya ayat ini بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ Orang kafir pun بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ
إِلاَّ تَفْعَلُوهُ Kalo kalian orang beriman tidak melakukan seperti itu
تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ (Niscaya akan terjadi kerusakan di muka bumi); dan ini yang terjadi sekarang وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (terjadi kerusakan yang besar)

Amerika seenaknya saja menginvasi sebuah negara, karena tidak ada lagi yang mengimbangi kekuatan mereka. Satu-satunya trik, jika negara2 islam OPEC itu bahu membahu memainkan peranan dalam distribusi minyak, bisa jadi goyah itu amerika. Jadi intinya sekali lagi بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

Makanya pengajian kita tidak mempermasalahkan hal2 hilfiyah. Silahkan mau datang pakai jilbab atau tidak. Yang salah itu tidak datang sama sekali.

Menurut ustad; seburuk-buruknya seseorang kalo dia masih mau ngaji, lebih baik daripada sebaik-baiknya orang yang sudah TIDAK MAU lagi ngaji.

Karena iblis itu kekurangannya, pdahal dia sudah sampai wilayah malakut, berdialog dengan Tuhan, salahnya adalah MERASA CUKUP, sehingga jatuhlah kedudukannya.
Itu pula yang dikecam dalam Al Qur’an (kalla innal insana layatgo arro ahus tagna) manusia itu angkuh, ego kalo sudah merasa cukup, sehingga lahirnya kata (istigna) stagnan.

Kita disini tidak membicarakan, apakah sesampainya di rumah pada gunting celanannya (ngatung), atau semua orang sudah kunut-atau tidak kunut, tapi di sini kita membicarakan agenda-agenda islam ke depan (semua itu masalah furuiyah). Itu bukan gambaran kemajuan islam.

Karena ukuran kemajuan islam adalah masalah mind, mind set, sehingga pengajian kita adalah bagaimana men-set mind kita untuk maju.

Bayangkan kalo dulu Nabi datang untuk membeberkan masalah furuiya, Pasti tidak akan berdiri Madinah seperti saat itu selama 13 tahun. Kalo masalah furuiya saja, paling2 hanya masalah wudhu saja yang terbahas (karena panjang bahasannya bab wudhu itu, dari mulai thaharah, sumber air, jumlah air, dijilat anjing bejananya dst).

Pasti yang dibicarakan Nabi selama di Mekkah. Bagaimana kita membangun nanti di Madinah, membangun peradaban, menghentikan arogansi romawi, menghentikan arogansi persia, sehingga para sahabat pun semangat.

Pesan dan kata inti pengajian di akhir ini adalah marilah kita بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

————————————————————————

disalin oleh Elin Haryanto

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.