LaaTahzan

April 9, 2007

‘ Ujub

Filed under: Hikmah — laatahzan @ 11:10 pm

Ujub
Oleh : Moch Aly Taufiq

Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, ”Keburukan (sayyi’ah) yang

menyebabkanmu gundah gulana, lebih baik di sisi Allah, daripada

kebaikan (hasanah) yang menyebabkanmu ‘ujub (berbangga diri).

Ada dua poin dalam kalimat mutiara tersebut. Pertama, perbuatan tercela

(selain dosa besar), tetapi membuat sang pelaku gundah, tidak tenang,

serta menyesal, dapat menjadi sugesti untuk bertobat. Kedua, perbuatan

terpuji, tetapi menyebabkan sang pelaku menjadi sombong. Menurut sepupu

Nabi SAW tersebut, ”Yang pertama lebih baik daripada kedua.”

‘Ujub adalah sifat terlalu membanggakan diri, sehingga individu lain

dipandang rendah, lemah, dan buruk. Seperti perkataan iblis, ”Saya

lebih baik dari Adam, Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan

Adam Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf [7]: 12).

‘Ujub adalah penyakit jiwa dan hati, yang seringkali menjangkiti orang-orang

yang dikaruniai harta melimpah, jabatan bergengsi, tubuh sempurna, ilmu luas,

gelar tinggi, dan wajah rupawan. ‘Ujub juga bisa menjangkiti seseorang yang

ilmu agamanya luas. Intinya, siapa pun bisa terserang ‘penyakit’ ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Tiga perkara yang membuatmu hancur

adalah kikir, mengikuti hawa nafsu, dan sifat membanggakan diri.

” Hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali

mengatakan, ”Sifat sombong dan ‘ujub mampu menghapus segala bentuk

keutamaan dan bisa merendahkan diri.” Sebanyak apa pun sedekah kita,

bila dilakukan dengan ‘ujub, tidak akan bernilai di sisi Allah.

Sesering apa pun ibadah kita, akan sia-sia, jika di dalam hati terdapat

sejengkal ruang ‘ujub maka sia-sia apa yang telah kita lakukan. Hal ini

makin menguatkan, segala yang dikaruniakan kepada kita, baik jabatan,

harta, atau ilmu, adalah ujian. Barang siapa tetap rendah hati dengan segala

keutamaan yang dimiliki, maka kedudukannya makin tinggi, baik di mata

manusia maupun di sisi Allah. Tapi, bagi hamba yang ‘ujub, keutamaan

tersebut menjadi kerendahan.

Maka, tak berlebihan bila Ali menyebut lebih baik perbuatan tercela,

tapi bisa menjadikan kita gundah dan bertobat. Rasa menyesal mendorong

kita selalu menghindari cela. Dan memang begitu rendah, perbuatan terpuji,

tapi berbuah kesombongan dan kecongkakan sehingga hati semakin ‘sakit’

dan susah ditembus oleh nasihat bijak. Na’udzu billahi min dzalika.

-dari Junrial-

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: