LaaTahzan

April 10, 2007

Bakti Sosial LT 28 April 2007

Filed under: Belajar Berbagi — laatahzan @ 11:08 pm

Temen-temen LT semua,

On Behalf Gandi n Raisa sebagai EO nya baksos mau ngasih info ke semua LT’ers klo Baksos nya InsyaAlloh akan diadakan pada:

Hari/Tanggal : Sabtu, 28 April 2007

Tempat : Panti Asuhan Anak Cacat Ganda (PPACG) ‘Wisma Tuna Ganda Palsigunung’

Alamat : Jalan Raya Bogor Km. 28,5 Cimanggis Telepon : (021)8710063

InsyaAlloh hari sabtu ini (7april07) Gandi n friends akan survey ke lokasi.

Nah buat LT’ers yang berniat menyumbang sebahagian hartanya bisa dititipkan ke devi (bendahara sosial LT).

 

LT’ers bisa transfer ke rekening berikut atau bisa kasih langsung pada saat pengajian.

Rekening BCA : a/n Devi Rahayu Account No : 2170080583

Rekening Mandiri : a/n Devi Rahayu Account No : 1520004853921

 

Pesan dari EO (Gandi) :

“ Sumbangan Anda Walau Sedikit (Apalagi BANYAK) akan sangat berarti bagi Mereka“

Advertisements

April 9, 2007

Hadist Arbain : Dalil Halal dan Haram

Filed under: Hadist — laatahzan @ 11:14 pm

Hadits 6 : Dalil Halal dan Haram Telah Jelas

Dari Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir ra berkata,
“Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang Halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus kedalamnya. Ingatlah setiap raja memiliki larangan dan ingatlah bahwa larangan Alloh apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan :

Dalam fatwa ini Rasulullah menunjukkan sifat kehati-hatian terhadap hal-hal yang masih samar tentang halal atau haramnya, karena sebab-sebab yang masih belum jelas. Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah , “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan kamu untuk berpegang pada sesuatu yang tidak meragukan kamu

Sebagian Ulama berpendapat, syubhat itu ada tiga macam :
1. Sesuatu yang sudah diketahui haramnya oleh manusia tetapi orang itu ragu apakah masih haram hukumnya atau tidak. , misalnya makan daging hewan yang tidak pasti cara penyembelihannya, maka daging semacam ini haram hukumnya kecuali terbukti dengan yakin telah disembelih (sesuai aturan Allah).

2. Sesuatu yang halal tetapi masih diragukan kehalalannya, seperti seorang laki-laki yang punya istri namun ia ragu-ragu, apakah dia telah menjatuhkan thalaq kepada istrinya atau belum, ataukah istrinya seorang perempuan budak atau sudah dimerdekakan. Hal seperti ini hukumnya mubah hingga diketahui kepastian haramnya, dasarnya adalah hadits ‘Abdullah bin Zaid yang ragu-ragu tentang hadats, padahal sebelumnya ia yakin telah bersuci.

3. Seseorang ragu-ragu tentang sesuatu dan tidak tahu apakah hal itu haram atau halal, dan kedua kemungkinan ini bisa terjadi sedangkan tidak ada petunjuk yang menguatkan salah satunya. Hal semacam ini sebaiknya dihindari, sebagaimana Rasulullah pernah melakukannya pada kasus sebuah kurma yang jatuh yang beliau temukan dirumahnya, lalu Rasulullah bersabda : “Kalau saya tidak takut kurma ini dari barang zakat, tentulah saya telah memakannya

Kalimat, “kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” maksudnya tidak mengetahui tentang halal dan haramnya, atau orang yang mengetahui hal syubhat tersebut didalam dirinya masih tetap menghadapi keraguan antara dua hal tersebut.
Kailmat, “maka barangsiapa menjaga dirinya dari yang samar-samar itu, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” maksudnya menjaga dari perkara yang syubhat.

Kalimat, “barangsiapa terjerumus dalam wilayah samar-samar maka ia telah terjerumus kedalam wilayah yang haram” hal ini dapat terjadi dalam dua hal :
1. Orang yang tidak bertaqwa kepada Allah dan tidak memperdulikan perkara syubhat maka hal semacam itu akan menjerumuskannya kedalam perkara haram, atau karena sikap sembrononya membuat dia berani melakukan hal yang haram, seperti kata sebagian orang : “Dosa-dosa kecil dapat mendorong perbuatan dosa besar dan dosa besar mendorong pada kekafiran

2. Orang yang sering melakukan perkara syubhat berarti telah menzhalimi hatinya, karena hilangnya cahaya ilmu dan sifat wara’ kedalam hatinya, sehingga tanpa disadari dia telah terjerumus kedalam perkara haram. Terkadang hal seperti itu menjadikan perbuatan dosa jika menyebabkan pelanggaran syari’at.

Rasulullah bersabda : “seperti penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang maka hampir-hampir dia terjerumus kedalamnya” ini adalah kalimat perumpamaan bagi orang-orang yang melanggar larangan-larangan Allah. Dahulu orang arab biasa membuat pagar agar hewan peliharaannya tidak masuk ke daerah terlarang dan membuat ancaman kepada siapapun yang mendekati daerah terlarang tersebut. Orang yang takut mendapatkan hukuman dari penguasa akan menjauhkan gembalaannya dari daerah tersebut, karena kalau mendekati wilayah itu biasanya terjerumus. Dan terkadang penggembala hanya seorang diri hingga tidak mampu mengawasi seluruh binatang gembalaannya. Untuk kehati-hatian maka ia membuat pagar agar gembalaannya tidak mendekati wilayah terlarang sehingga terhindar dari hukuman.

Kalimat, “Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya” yang dimaksud adalah hati, betapa pentingnya daging ini walaupun bentuknya kecil, daging ini disebut Al-Qalb (hati) yang merupakan anggota tubuh yang paling terhormat.

Allah menyebutkan bahwa manusia dan hewan memiliki hati yang menjadi pengatur kebaikan-kebaikan yang diinginkan. Hewan dan manusia dalam segala jenisnya mampu melihat yang baik dan buruk, kemudian Allah mengistimewakan manusia dengan karunia akal disamping dikaruniai hati sehingga berbeda dari hewan. Allah berfirman, “Tidakkah mereka mau berkelana dimuka bumi karena mereka mempunyai hati untuk berpikir, atau telinga untuk mendengar…” (QS. Al-Hajj 22:46).

Wallahu a’lam

Dikutip dari:Terjemah Syarah Arba’in an Nawawi, Ibnu Daqiqil ‘Ied.

-Oshi Isbani-

‘ Ujub

Filed under: Hikmah — laatahzan @ 11:10 pm

Ujub
Oleh : Moch Aly Taufiq

Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, ”Keburukan (sayyi’ah) yang

menyebabkanmu gundah gulana, lebih baik di sisi Allah, daripada

kebaikan (hasanah) yang menyebabkanmu ‘ujub (berbangga diri).

Ada dua poin dalam kalimat mutiara tersebut. Pertama, perbuatan tercela

(selain dosa besar), tetapi membuat sang pelaku gundah, tidak tenang,

serta menyesal, dapat menjadi sugesti untuk bertobat. Kedua, perbuatan

terpuji, tetapi menyebabkan sang pelaku menjadi sombong. Menurut sepupu

Nabi SAW tersebut, ”Yang pertama lebih baik daripada kedua.”

‘Ujub adalah sifat terlalu membanggakan diri, sehingga individu lain

dipandang rendah, lemah, dan buruk. Seperti perkataan iblis, ”Saya

lebih baik dari Adam, Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan

Adam Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf [7]: 12).

‘Ujub adalah penyakit jiwa dan hati, yang seringkali menjangkiti orang-orang

yang dikaruniai harta melimpah, jabatan bergengsi, tubuh sempurna, ilmu luas,

gelar tinggi, dan wajah rupawan. ‘Ujub juga bisa menjangkiti seseorang yang

ilmu agamanya luas. Intinya, siapa pun bisa terserang ‘penyakit’ ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Tiga perkara yang membuatmu hancur

adalah kikir, mengikuti hawa nafsu, dan sifat membanggakan diri.

” Hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali

mengatakan, ”Sifat sombong dan ‘ujub mampu menghapus segala bentuk

keutamaan dan bisa merendahkan diri.” Sebanyak apa pun sedekah kita,

bila dilakukan dengan ‘ujub, tidak akan bernilai di sisi Allah.

Sesering apa pun ibadah kita, akan sia-sia, jika di dalam hati terdapat

sejengkal ruang ‘ujub maka sia-sia apa yang telah kita lakukan. Hal ini

makin menguatkan, segala yang dikaruniakan kepada kita, baik jabatan,

harta, atau ilmu, adalah ujian. Barang siapa tetap rendah hati dengan segala

keutamaan yang dimiliki, maka kedudukannya makin tinggi, baik di mata

manusia maupun di sisi Allah. Tapi, bagi hamba yang ‘ujub, keutamaan

tersebut menjadi kerendahan.

Maka, tak berlebihan bila Ali menyebut lebih baik perbuatan tercela,

tapi bisa menjadikan kita gundah dan bertobat. Rasa menyesal mendorong

kita selalu menghindari cela. Dan memang begitu rendah, perbuatan terpuji,

tapi berbuah kesombongan dan kecongkakan sehingga hati semakin ‘sakit’

dan susah ditembus oleh nasihat bijak. Na’udzu billahi min dzalika.

-dari Junrial-

QS Ali Imran 8,147

Filed under: Do'a — laatahzan @ 11:07 pm

Assalamu’alaikum wr wb

Untuk membiasakan diri dalam berinteraksi dengan Al Quran, dan dapat secara rutin menghafal Al Quran dan mengamalkannya, maka kami akan mengirimkan do’a-do’a yang diambil dari Al Quran secara bertahap dan secara berurutan.

1. Doa minta dijauhkan dari kesesatan
3:8 Rabbanaa la tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rahmah, innaka anta al wahhaab

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

2. Doa penghapus dosa
3:147 Rabbanaghfirlanaa dzunuubanaa wa israfanaa fii amrinaa wa tsabbit aqda manaa wanshurnaa ‘alaa al qaumil kaafiriin

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Dikutip dari Al Quran dan terjemahan

-Oshi Isbani-

Blog at WordPress.com.