LaaTahzan

June 21, 2005

Ma’rifatullah (Bag.1)

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — laatahzan @ 7:16 am

Summary Kajian, 18 May 2005

Disampaikan oleh Ustadz M. Muhammad Rusli Malik
Disalin oleh Intan KD (kalo ada yang salah, salahin yg nyalin ya….)

Peranan Akal
Sebelum membahas Ma’rifatullah, akan dibahas dulu hubungan antara ma’rifatullah dan ma’rifatunnas. Dalam pelajaran kita mengenai ma’rifatunnas, telah diketahui bahwa inti dari manusia itu adalah akalnya. Yg jadi agen pengganggu adalah hawa nafsunya, namun kita juga memerlukan hawa, sehingga hawa ini tidak bisa dihilangkan. Dan akal adalah satu-satunya instrumen yang bisa membawa kita kepada Allah, mendekati Allah.
Yang dimaksud dengan mendekati Allah disini bukanlah dalam pengertian fisik. Lalu bagaimana kita bisa menjadi dekat atau menjadi jauh dari Allah? Ternyata dekat jauhnya kita dari Allah tergantung kepada akal kita.

Cahaya Allah
CiptaanNya, yang memancar dari diriNya
Musyahadah, Akal tidak bisa lagi digunakan
Mujahadah, Akal digunakan

(Ada gambarnya nih, cuma belom di upload…sabar yach…:-))

Allah adalah awal dan asal dari segala sesuatu di alam ini. Allah menciptakan alam dan seisinya, serta menetapkan hukum-hukum yang berlaku pada ciptaannya tersebut. Dan sebagai Pencipta, tentu saja hukum-hukum tersebut tidak berlaku bagi Allah. Misalnya, Allah menciptakan bumi, dan menetapkan hukum gravitasi bagi bumi. Maka tentu saja hukum gravitasi tersebut tidak berlaku bagiNya.

Bagaimana kita dapat mendekati Allah? Kitalah yang harus ‘naik’ agar dapat mendekati Allah. Ibarat seseorang berada dalam ruangan dengan cahaya lampu. Bagaimana agar dia dapat memperoleh cahaya yang dengan intensitas yang lebih banyak? Tentu dialah yang harus bergerak mendekati lampu tersebut, mendekati sumber cahaya tersebut. walaupun tentu analogi ini tidak tepat sama, namun begitu jugalah dengan Allah SWT. Satu-satunya cara untuk dapat mendapatkan cahaya Allah adalah dengan mendekatiNya. Bagaimana mendekatiNya? Gunakanlah akal.

Dengan akallah kita dapat memahami hukum-hukum alam. Dengan mengenal hukum alam, mengenal ciptaanNya, makhlukNya, kita dapat mengenal Allah. Tetapi begitu kita sampai pada cahaya Allah, menyatu denganNya, maka akal tidak terpakai lagi. Kenapa? Karena Allah tidak tunduk pada hukum akal. Masih ingat dengan prinsip-prinsip akal yang pernah dibahas sebelum ini? Akal itu bekerja dengan prinsip non kontradiktif, prinsip kausaliatas dan prinsip matematis. Prinsip-prinsip itu (harus) kita pakai untuk dapat mencapai Allah, namun setelah kita mencapaiNya, prinsip itu tak berlaku lagi.

Allah tidak tunduk pada hukum non kontradiktif; Hukum kausalitas tak berlaku lagi, karena Allah tak sersebabkan lagi, Dia bukan akibat dari sebab-sebab yang lain, Dia adalah sebab utama (Causa Prima); Dia tak dapat dibagi, tidak dapat dihitung, tidak dapat diperbandingkan, tak ada yang sebanding dengan Dia, hukum matematis tak berlaku lagi. Akal tak terpakai lagi. Maka akal ternyata bukanlah segala-galanya. Akal kita gunakan hanya untuk me-ma’rifat Allah, untuk mengenal Allah. Ibarat tangga, kita menggunakan tangga untuk naik ke suatu tempat yang tinggi. Tapi bila kita telah sampai pada tempat yang tinggi tersebut, kita tidak perlu lagi menggunakan tangga tersebut. Kita akan gunakan lagi tangga tersebut untuk turun ke tempat semula. Begitu juga dengan kita manusia. Walaupun seseorang telah mencapai Allah, dia tetap harus menggunakan akalnya dalam berhubungan dengan manusia dan makhluk lainnya, dia harus berbahasa dengan bahasa yg difahami oleh manusia, bahkan dalam hal menerangkan hakikat Ketuhanan.

Empat perjalanan manusia
Ada empat perjalanan manusia, disebut Al-Asfar Al arbaah. Al-asfar berasal dari kata safar, musafir, berjalan. Al – arba’a berarti empat.
perjalanan dari manusia Ke Tuhan (Mujahadah)
perjalanan dari tuhan dalam tuhan (Musyahadah)
perjalanan dari tuhan ke manusia
perjalanan dari manusia ke manusia

ad.1. Mujahadah
Mujahadah adalah perjalanan pertama manusia. Mujahadah berasal dari kata jahada, jahidu, jihad, artinya berjuang, memaksakan diri. Mujahadah adalah perjalanan yang penuh perjuangan untuk mengenal Allah, menyadari kehadiran Allah. Dalam usaha kita untuk ‘naik keatas’(tidak secara fisik lho ya), ada hawa yang akan selalu menarik kita ‘kebawah’, sehingga Alqur’an menyatakan “kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS. 95 : 5). Bila berhasil, kita akan sampai ke ‘atas’, sampai pada musyahadah.

Ad.2. Musyahadah
Kalau kita sampai ‘keatas’, itu dinamakan Musyahadah, berasal dari kata syahadah, syahid, menyaksikan. Inilah perjalanan dimana seseorang sudah menyatu dengan Allah, perjalanan dari Tuhan dalam Tuhan. Seperti Al-Hallajj, sehingga ia berkata, “Annal haq” (akulah kebenaran). Namun walaupun seseorang itu telah menyatu dengan Allah, dia harus menggunakan bahasa manusia ketika berkomunikasi dengan manusia. Seperti bila kita sudah memahami ilmu matematika yang mendalam, kita harus menggunakan bahasa yang sederhana ketika mengajarkan berhitung kepada anak kecil. Seperti juga Nabi, dia berbicara dengan bahasa kaumnya, dia tidak berbicara berdasarkan keindahan rasa yang dia alami bersama Tuhan.

Sari :
Apakah yang dimaksud disini, Allah berarti tidak terjun langsung dalam proses mendekati manusia? Sehingga Ia misalnya, kemudian mengirim jibril, mengutus Nabi Muhammad?

Ust. Rusli :
Sebelumnya harus difahami dulu bahwa yang kita maksud disini bukanlah dekat dalam pengertian ruang dan waktu. Jangan membayangkan Allah itu duduk di suatu tempat tertinggi dan kemudian kita bergerak mendekatiNya. Bukan begitu. Tetapi mendekat disini bermakna dekat dalam pikiran. Tuhan itu ada dimana-mana, tetapi bila kita tidak menyadari kehadiranNya, Dia akan terasa jauh. Sama seperti bila dua orang duduk berdekatan, namun tidak saling mengenal, tidak saling menyapa, maka akan terasa jauh.

Ad.3. Perjalanan dari Tuhan ke manusia
Setelah manusia mencapai tahap musyahadah, ia harus mampu ‘turun’ lagi, jangan terjebak, berhenti di musyahadah, hingga mengalami suatu egoisme spiritual, merasakan kenikmatan bersama Tuhan untuk dirinya sendiri. Padahal kenikmatan tertinggi sebenarnya adalah ketika apa yang dicapainya di perjalanan musyahadah-nya itu, bisa dibawa ‘turun’, dibagi dengan manusia lain. Sama seperti seseorang yang merasakan nikmatnya suatu makanan, kenikmatannya akan terasa lebih tinggi lagi, bila ia bisa membagi makanannya tersebut dengan orang lain. Orang seperti Al-Hallaj, tidak membagi apa yang diperolehnya di musayahadah-nya dengan bahasa manusia, sehingga kemudian sulit untuk diterima manusia lain, terkesan tidak masuk akal. Seperti juga kisah Syeh Siti Jenar, yang mengatakan, “akulah Allah”, sehingga ia dihukum.

Ad.4. Perjalanan dari manusia ke manusia
Inilah perjalanan keempat, perjalanan manusia untuk menegakkan keadilan, yang merupakan tugas kekhalifahan, tugas Para nabi, para alim ulama dan tugas seluruh manusia, sebagaimana pada ayat Alqur’an yang sering disitir oleh para khatib sholat Jumat, QS. An-Nahl (16) ayat 90 : “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan menolong keluarga yang dekat dam melarang dari mengerjakan yang keji dan yang munkar dan kedhaliman. Ia menasehati kamu, supaya kamu ingat.”

Diskusi
Doni :
Perjalanan yang empat ini, bisa terpisah-pisah atau harus berurutan?

Ust. Rusli :
Ada yang langsung masuk ke perjalanan ke empat, misalnya teman-teman kita di LSM yang memperjuangkan keadilan. Namun resikonya, apa yang dilakukan menjadi tidak ada nilai ilahiahnya dan bisa jadi bernilai pamrih. Ikhlas, tanpa pamrih, hanya akan dapat dicapai bila kita telah melalui perjalanan sebelumnya. Mengapa? Karena orang-orang yang telah mengalami nikmatnya bermusyahadah dengan tuhan akan tabah dalam menghadapi setiap tantangan dan kesulitan yang ada ketika berhubungan dengan manusia. Kesulitan itu tak berarti bila dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkan bersama Tuhan. Ia akan melakukan semua perintah Tuhan dengan kecintaan. Seperti para nabi yang dihujat, diusir oleh kaumnya.

Rizal :
Apa kriteria bahwa seseorang itu sudah mengenal Tuhan? Jangan sampai terjadi, seseorang merasa sudah mengenal Tuhan, padahal ternyata ia salah. Perasaan yang bagaimana yang muncul ketika seseorang benar-benar merasakan kehadiran Tuhan? Bagaimana dengan seseorang yang tidak punya pengetahuan banyak tentang Tuhan, tetapi ia dapat merasakan Tuhan? Dan bagaimana menentukan dimana batasan akal itu dapat atau tidak dapat lagi digunakan?

Ust. Rusli :
Akal kita gunakan untuk dapat mengetahui, kemudian mengenal Tuhan. Tanpa pengetahuan tentang Tuhan, kita bisa tertipu oleh perasaan-perasaan kita, pikiran-pikiran kita. Dikatakan bahwa perjalanan menuju Tuhan itu memang banyak perompak-perompak yang dapat membuat kita salah jalan. Seperti Lia Aminuddin yang kemudian mengangkat dirinya menjadi orang suci (nabi?). dan rasa mengenal Tuhan itu memang tidak bisa digambarkan, tidak bisa diceritakan, hanya akan dimengerti oleh mereka yang merasakannya. Sebagaimana kita tidak dapat menerangkan dengan tepat bagaimana rasanya teh botol ini. Kalau seseorang ingin tahu, suruhlah ia meminum teh botol tersebut, daripada mencoba untuk menceritakannya. Demikianlah pula dengan spiritualitas itu, tidak bisa digambarkan. Kalaupun dicoba untuk menggambarkan, akan menggunakan bahasa manusia, yang sarat dengan perumpamaan.

Intan :
Kalau begitu, bisa jadi apa yang dilakukan oleh Lia Aminuddin itu bukan karena dia ingin mencari harta atau pengikut atau hal-hal keduniawian lainnya, melainkan karena memang dia merasa benar, dia meyakini apa yang dia pikirkan dan rasakan, dan kemudian menyampaikan kepada orang lain, padahal dia tertipu oleh perasaannya sendiri.

Ust. Rusli :
Bisa jadi begitu. Makanya kita harus menggunakan akal kita untuk mengenal Allah. Coba lihat QS 62:2 yang menyebutkan tugas rasulullah, yaitu mengajarkan kepada kaumnya ayat-ayatNya (bukan AlQur’an maksudnya, tapi tanda-tanda kebesaran Allah), lalu membersihkan diri mereka, baru kemudian mengajarkan kitab suci (AlQur’an), dan terakhir, mengajarkan hikmah. Puncak dari perjalanan manusia adalah memperoleh hikmah.

Rizal :
Kalau seseorang sudah melaksanakan perintah agama, misalnya seperti melaksanakan sholat, berpuasa, membayar zakat, dll, sebagai salah satu cara untuk mngenal Tuhan, apakah ia masih perlu mengenal Tuhan secara khusus?

Ust. Rusli :
Dalam AlQur’an tidak disebutkan bahwa pelaksanaan ibadah yg tadi disebutkan adalah sarana untuk mengenal dirinya. Tuhan mengenalkan diriNya melalui nama-namaNya. Allah mengimplementasikan kehendakNya melalui alam dan kitab (Alqur’an). Karena alam dan alkitab sama-sama bersumber dari diriNya, maka keduanya tidak mungkin bertentangan, terjadi cek dan ricek antara keduanya. Maka ini merupakan salah satu cara untuk menguji kebenaran kitab suci, atau juga untuk menguji kebenaran teori ilmu pengetahuan. Nah, sekarang, kita mengenal Allah, melalui tafakur (berpikir) dan tazakkur (berzikir). Tafakur tentang alam, zikir melalui kitab, melalui asma Allah. Jadi pada hakekatnya, sebenarnya setelah kita mengenal Tuhan, barulah kita sholat. Sholat adalah kendaraan bagi kita untuk mi’raj kepada Allah. Ingatlah, pada periode Mekkah (13 tahun) tidak ada perintah-perintah mengenai fiqh, yang ada adalah mengenai iman, pengenalan kepada Tuhan. Kita sekarang terbalik. Kita kenal pada fiqh dulu, baru kemudian berusaha mengenal Allah.

Intan :
Well, jadi selama ini saya tidak mengenal Tuhan yang saya sembah

Ust. Rusli :
Benar, kata orang arif, selama anda belum mengenal Tuhan dengan benar, jangan-jangan yang Anda sembah adalah Tuhan yang anda ciptakan dengan pikiran Anda sendiri. Seperti bila kita membayangkan Tuhan ada didepan kita ketika sholat. Apa benar Tuhan ada didepan kita? Padahal Dia tak terikat dengan ruang. Dia ada dimana-mana. Kita diliputi oleh Allah, Allah ada didalam diri kita, kita tak dapat melepaskan diri dariNya.

Doni :
Mungkin bisa kita umpamakan seperti ikan dalam air. Dalam tubuh ikan ada air, dan ikan ada di dalam air, dan ikan tak bisa lepas dari air.

Ust. Rusli :
Perumpamaan yang bagus sekali.

Sari :
Ust. Kadang saya sholat di dalam mobil, ketika jalan macet, apa itu tidak apa-apa? karena saya khawatir kehabisa waktu sholat, dan daripada tidak berbuat apa-apa di dalam mobil. Ternyata setelah saya sholat, jalanan menjadi lancar.

Ust. Rusli :
Tidak apa-apa. Itu adalah ritual yang harus kita lakukan. Walaupun bagi mereka yang sudah mencapai musyahadah, itu adalah gerakan-gerakan ritual yang harus mereka lakukan ‘hanya’karena mereka harus berbicara dengan manusia. Padahal pada hakekatnya, perasaan mereka kepada Tuhan sama, baik didalam ritual sholat ataupun tidak. Mereka ‘sholat’ setiap saat. Tetapi kita harus berhati-hati juga dalam hal mengubungkan-hubungkan suatu ritual yang dilakukan dengan yang kemudian terjadi. Misalnya : jalanan menjadi lancar karena saya tadi sholat.

Jayanti :
Kalau misalnya saya punya keinginan, kemudian saya berdoa, dan kemudian keinginan saya itu tercapai, dan saya berpikir, “ternyata Tuhan itu dekat, Dia mendengarkan saya”, apakah itu juga termasuk menghubung-hubungkan seperti yang Ustadz maksud?

Ust. Rusli :
Mengapa hanya menyadari kehadiran Tuhan ketika doa kita terkabul? Mengapa kita menunggu hal yang demikian untuk dapat membuat kesimpulan bahwa tuhan itu dekat? Apakah itu berarti Tuhan itu jauh, sebelumnya? Nah, maksud saya, sebenarnya Tuhan itu pada dasarnya dekat, baik doa kita dikabulkan ataupun tidak. Bukankah Dia telah menyediakan semunya untuk kita? Oksigen yang kita hirup setiap saat, misalnya. Apakah para nabi yang dihujat, dilempar batu, diusir oleh kaumnya itu kemudian bisa kita artikan bahwa Tuhan jauh dari mereka? Tuhan tidak menolong mereka? Tidak mengabulkan doa mereka? Kesimpulannya, Tuhan itu dekat atau tidak, bukan karena doa kita dikabulkan atau tidak.

Jayanti :
Bagaimana dengan orang-orang yang kita anggap sangat dekat dengan Tuhan karena ibadahnya? Bolehkah kita minta didoakan olehnya?

Ust. Rusli :
Boleh saja minta didoakan kepada orang saleh. Tetapi hati-hati juga, jangan sampai kemudian terjadi komersialisasi kemampuan berdoa.

Jayanti :
Atau misalnya, bagaimana dengan kita yang suka menitipkan doa pada orang yang pergi haji, karena disana banyak tempat yang mustajab untuk berdoa?

Ust. Rusli :
Kalau semua doa kita ketika naik haji itu dikabulkan, seharusnya umat islam menjadi umat yang paling berhasil di seluruh dunia. Nyatanya tidak. Pernah dengar cerita tentang seorang pemuda yang ingin punya anak? Dia lalu minta nasehat pada seorang kyai. Kyai menyarankan dia untuk sholat malam dan berdoa, dia laksanakan selama bertahun-tahun hal demikian, tapi belum punya anak juga. Lalu sang kyai menyarankan dia untuk naik haji, karena disana banyak tempat yang mustajab untuk berdoa, dia laksanakan, dan belum juga punya anak. Pak kyai menyarankan dia untuk naik haji lagi, karena doa memang harus diulang. Maka dia naik haji tiga kali berturut-turut dalam tiga tahun, tapi belum juga punya anak. Akhirnya kyai bertanya apakah pemuda itu sudah menikah atau belum, dan ia menjawab belum. Nah, bagaimana mau punya anak kalau belum menikah? Ini hanyalah contoh bahwa doa itu tak berarti bila tidak disertai dengan ikhtiar, terutama doa yang berkaitan dengan hal-hal materiil.

Intan :
Bagaimana fungsi doa sebenarnya? Bukankah ada juga orang yang berhasil mencapai keinginannya dengan usaha saja, walo tanpa berdoa?

Ust. Rusli:
Ini akan kita bahas dalam kajian kita selanjutnya. Akan ada sesi khusus dalam ma’rifatullah tentang doa. Tetapi baiklah, mari kita bahas sebentar. Doa itu sangat penting. Bagaimana peran atau fungsinya, itu tergantung kepada apa yang kita inginkan. Bila yang kita inginkan adalah kedekatan dengan Tuhan, bermusyahadah, maka doa menjadi tulang punggung, dan usaha menjadi kulitnya saja. Tetapi bila yang kita inginkan adalah hal-hal materiil, seperti kesuksesan dalam belajar, karir, maka usaha menjadi tulang punggung terkabulnya keinginan itu, dan doa menjadi kulitnya.

Rizal :
Doa bisa memberikan efek psikologis yang positif.

Ust. Rusli :
Benar, doa bisa memberi motivasi. Seperti yang saya tulis di buku ‘Puasa’ saya, ada beberapa fungsi doa. Yang pertama, doa itu berfungsi sebagai mision statement. Misalnya kita berdoa, “ya Allah, izinkanlah saya memiliki mobil”, maka jelas, keinginan kita adalah memiliki mobil. Yang kedua, doa memberi motivasi. Segala sesuatu yang disampaikan kepada pihak lain, itu akan menambah motivasi. Yang ketiga, doa akan menjaga konsistensi misi, doa yang disampaikan terus menerus akan membuat keinginan menjadi ketetapan. Yang keempat, doa menjadi backup. Maksudnya, bila kita berhasil, kita tidak menjadi sombong (semua ini karena Allah), dan kita tidak menjadi depresi bila gagal (ada yang lebih baik menurut Allah buat saya). Dan saya yakin, doa tidak akan merubah sesuatu secara ‘simsalabim’. Berapa banyak orang yang berdoa untuk keselamatan kaum muslimin di palestina dan lani-lain, tapi tidak terjadi apa-apa. Bukankah Allah sudah mengatakan, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum tersebut tidak mengubah dirinya sendiri.

Doni :
Pernah dengar perumpamaan dari Aa Gym, usaha itu ibarat menanam benih, dan doa ibarat memberi pupuk. Tanaman dapat tumbuh tanpa pupuk, tapi tentu tidak maksimal.

Ust. Rusli :
Benar, bisa diumpamakan demikian.

Intan :
Bagaimana dengan sikap menyalahkan Tuhan bila apa yang kita inginkan, yang kita usahakan tidak tercapai?

Ust. Rusli :
Itu tergantung pada cara pandang seseorang terhadap Tuhan. Segala sesuatu kebaikan yang kita dapatkan di dunia ini berasal dari Tuhan, karena yang kita gunakan untuk mencapainya adalah milik Tuhan, misalnya, otak yang kita pakai ini. Tapi kalau ada kejelekan, itu karena kita sendiri, karena kita yang kurang tepat dalam memanfaatkan potensi yang sudah diberikan.

Berlanjut ke Kajian Rabu berikutnya…..

2 Comments »

  1. assalamualaikum Wr. Wb

    kajian yang anda sajikan sangat bagus,
    dan saya pikir sangat bermanfaat bagi saya dan saya sngat bertrima kasih.

    selain itu saya ada beberapa pertanyaan neh..

    1. menurut anda apa ada hubungan antara al asfar al arba’a karya mulla sadra dengan al isharat karya ibn sinna?

    2. dimana saya bisa dapat buku atau literatur tentang al asfar al arba’a?

    terima kasih, saya mohon pertanyaan ini bisa di jawab karena saya sangat ingin tahu lebih jauh tentang filosofi agama.

    Comment by firosya — April 30, 2008 @ 2:16 am | Reply

  2. Rekan Firosya,

    Silakan hadir di pengajian kami jika ingin memperoleh uraian tentang pertanyaan tersebut.
    Sejauh ini kami masih belum mendapatkan secara utuh jawaban dari pertanyaan tersebut dan juga literatur yang dimaksud.

    Terima kasih,

    Comment by Oshi — May 8, 2008 @ 10:20 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: