LaaTahzan

June 30, 2005

Pengajian Rabu Ceria -29/6/05- Poto2 niy (^_^)

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — laatahzan @ 2:29 pm

Kontributor: Ustadz Dicky

Assalamualaikum,
Gak kerasa kmrn malem ada pengajian Latahzan di At-Takwa. seperti kata ust Farhan di email, kemaren malem itu malem ter-rame yang pernah ada (bener gak temen2..hehe)…dibawah ini ada beberapa poto yang dapat diabadikan, seperti nya banyak juga temen2 yang baru yaaa,alhamdulillah…

Image hosted by Photobucket.com

 

Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com

 

dimana saja temen2 selalu ceria yaaa…semoga ALLAH SWT memberikan Rahmat & Hidayah-Nya buat kita semua..Amien!!

(^_^) + (^_^) = selalu ceria = Latahzan

 

Advertisements

June 29, 2005

Photos:LaaTahzan 2nd Mabid

Filed under: Mabit Ceria — laatahzan @ 3:11 pm

Kontributor: Ustadz Dicky

Assalamualaikum Temen2….

dilampirkan poto2 pas mabid 2 berlangsung;-)…semuanya ceria yaaa, it’s so great!..alrite then, let we look it one by one…

pasangan yang kita semua tau, insyaallah selalu harmonis n’ buat kita2 ini semoga bisa mengikuti jejak beliau2 ini (langsung dey nyanyi lagi glenn ama tohpati..”Jejak langkah yang kau tinggall…”..(^_^) …ust. Rusli n istri tercinta

Image hosted by Photobucket.com

berikunya sapa lagi yaaaa;-)..poto bareng2 aja yaaa, lagi di air terjun, LATAHZAN!!!

Image hosted by Photobucket.com

poto berikut adalah para latahzan-ers lagi mau menyetop taxi, pulang dari mabid 2 di perairan gitu…(^_^) or mungkin abang gonata lagi nyoba gaya rapper gitu,hehehe

Image hosted by Photobucket.com

Wah wah wah wah, semuanya ceria sekali yaaaa..bener2 meresapi arti ‘Latahzan” yaaaa…ok dey, sori2 kata2 yaaa klo ada yang tidak berkenan, semoga aja apa yang udah kita lakuin bersama dibawah ‘bendera’ Latahzan mendapat ridho dari ALLAH SWT…insyaallah..

June 28, 2005

Muhammad dalam Al-Qur’an (20Apr05)

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — laatahzan @ 2:42 pm

memperingati Maulid Nabi 1425

Disampaikan oleh Ustadz Muhammad Rusli Malik, disalin oleh Lutfah Ariana, Intan KD, Doni SF.(kalo ada yang salah, salahin yg nyalin ya….)

Nabi Muhammad memiliki popularitas yang lebih tinggi daripada Yesus disebabkan oleh beberapa hal :

  1. Disebutkan di setiap waktu adzan

  2. disebutkan dalam dzikir dan atau sholawat kepada Nabi Muhammad

  3. Banyak orang Islam menggunakan nama ‘Muhammad’sebagai nama depannya

Namun bukan hal tersebut yang penting bagi kita. Kita akan mempelajari bagaimana Nabi Muhammad dalam Alqur’an.Ada yang berpendapat, Nabi Muhammad lahir dan meninggal pada bulan yang sama (Rabiul Awwal). Coba dicek lagi, apakah hari dan tanggalnya juga sama? Dalam komunitas Nahdatul Ulama, dikenal adanya tradisi Khaul, yaitu peringatan hari wafatnya para Kyai/ulama.Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an dijelaskan dalam beberapa surah berikut :Surat Al-Fath (48) : ayat 29

Muhammad adalah utusan Allah

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…..” (QS.48:29.terjemahan Al-Qur’an versi DEPAG).
1.1. Muhammad adalah utusan AllahMuhammad sebagai Rasul Allah adalah sebagai subjek dan predikat dalam istilah Arabnya Mubtada’ dan Khobar.Ada 3 hal yang tidak terpisahkan untuk menjelaskan tentang ‘Muhammad adalah utusan Allah’, yaitu :

  1.  
    1. Mursil : yang mengutus, yaitu Allah

    2. Risalah : yang dibawa oleh utusan tersebut, yaitu Al-Qur’an

    3. Rasul : utusan, yaitu Muhammad

Allah sebagai pengutus tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, karena Allah yang menciptakan materi ruang dan waktu. Dia tidak mungkin terikat pada ciptaanNya.

Risalah yang berasal dari Allah (disebut sebagai kalimat-kalimatNya) juga tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, sehingga risalah tersebut berlaku sepanjang masa secara universal. Rasul Allah, yaitu Muhammad. Apakah utusan tersebut terikat dengan materi ruang dan waktu? karena dia berbicara dengan Allah?Menurut kepercayaan orang Nasrani, Yesus tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, karena Yesus adalah utusan Tuhan, membawa injil dari Tuhan, mempunyai sifat-sifat ketuhanan, dan dianggap sebagai anak Tuhan. Hal yang demikian tidak diterima dalam Islam. Dalam Islam, Isa dan Muhammad hanyalah utusan Tuhan, Muhammad tidak sama dengan Tuhan. Isa bukan anak Tuhan. Bukankah anak akan sama dengan ibu dan ayahnya? Anak manusia adalah manusia, anak Tuhan adalah Tuhan, sedangkan Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan.1.2. Keras/Tegas terhadap kekufuranBanyak penerjemah menerjemahkan kata al-kuffar pada QS 48:29 tersebut diatas sebagai orang-orang kafir. Tetapi menurut ust. Rusli, kata al-kuffar sebenarnya bermakna kekufuran, jadi lebih menekankan pada perbuatan kufur, bukan pada orang-orang kafir. Pertanyaan Intan : ustadz, pada kitab terjemahan ini, al-kuffar diartikan sebagai orang kafir. Bagaimana ustadz bisa memberi terjemahan yang berbeda? Ini terasa penting, karena ‘orang-orang kafir’ dan ‘kekufuran’ adalah dua hal yang berbeda.Ustd. Rusli : Untuk menyebut ‘orang kafir’, Alquran pada ayat yang lain menggunakan kata Al-kafir. Silahkan melihat QS. 5 : 54.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Pada QS. 48:29, Alqur’an menggunakan kata-kata: Asyiddaau ‘alaa al-kuffaar (keras terhadap kekufuran). Ayat tersebut dimaknai sebagai sikap keras terhadap segala perbuatan kufur, yaitu segala perbuatan yang mendistorsi lahirnya masyarakat adil dan sejahtera, atau dalam bahasa agama, perbuatan yang melanggar perintah Tuhan. Misalnya : narkoba berkeliaran dimana-mana, sehingga membuat orang cemas, orang mabuk mengganggu ketrentaman masyarakat, dsb. Pada QS. 5 : 54 Alqur’an menggunakan kata-kata:a’izzatin ‘ala al-kaafiriin (keras terhadap orang-orang kafir). A’izzatin berasal dari kata aziz, yaitu tegas, perkasa, atau keras dalam konotasi positif. Maka ‘keras terhadap orang-orang kafir’ dalam ayat tersebut menggambarkan sikap teguh pada prinsip, penuh harga diri, bermartabat, tidak lemah atau rendah diri terhadap orang-orang kafir, dan bukan dimaksudkan sebagai sikap yang kasar kepada orang-orang kafir. “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…..bekas sujud itulah yang kita sebut sebagai inner beauty. Hilang semua yang negative dari dalam diri.Kesimpulan : seorang muslim harus bersikap keras terhadap segala bentuk kekufuran, dan bersikap tegas namun tetap menjaga ahlaq terhadap orang-orang kafir.2. Surat Al-Kahfi (18) : ayat 110

Muhammad adalah manusia biasa

Katakanlah kepada mereka “ Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa’. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia persekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS.18:110 versi Depag).Penggunaan kata “Qul” menandakan adanya opini atau persepsi akan sesuatu yang telah berkembang sebelumnya. Kata “Qul” digunakan untuk menanggapi atau membantah opini tersebut. Misalnya penggunaan kata ‘Qul’ pada QS. 112:1, yang merupakan bantahan terhadap persangkaan kaum kafir Quraisy bahwa Tuhan itu ada tiga, bahwa malaikat adalah anak-anak Tuhan. “katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa” (QS. 112 : 1)Pada QS.18:110 diatas, kata “Qul” digunakan untuk menegaskan bahwa Muhammad adalah manusia biasa (lupa euy, apa ya, persepsi yang berkembang untuk Muhammad sebelumnya?). pada ayat tersebut Muhammad menyebut Ana (aku) untuk dirinya. Ini adalah satu-satunya ayat dimana Muhammad menyatakan dirinya dengan jelas, ‘aku’. Kata ‘Basyarun’ bermakna : manusia biasa, manusia yang sama secara biologis, genetic, psikis dengan manusia lain, manusia yang juga bisa sakit, terluka, berdarah, bersedih, menangis, menikah, berketurunan, mati, dan lain-lain.Maka Muhammad tidak beda dengan manusia yang lain. Dengan kata lain, kita yang merupakan manusia biasa ini mempunyai potensi dan kesempatan untuk dekat dengan Allah sebagaimana kedekatan Muhammad, kita mempunyai potensi untuk meneladani Muhammad. So, jangan sering-sering bilang, ‘ah, itu kan nabi, sedangkan saya bukan nabi’ dalam rangka membela diri (ini tambahan dari gue:p).Maka Muhammad juga terikat dengan materi ruang dan waktu. Artinya, walaupun Risalah yang dibawa Rasul jelas-jelas tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, namun alat-alat untuk menerjemahkan risalah tersebut terikat oleh materi ruang dan waktu.Sebagai contoh : ‘kebersihan’ tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dimana dan sampai kapanpun, manusia akan mencintai kebersihan, dan perintah untuk menjaga kebersihan adalah abadi. Namun ‘menggunakan siwak sebagai alat kebersihan terikat oleh ruang dan waktu. Pada zaman sekarang kita dapat dan diperbolehkan untuk menggunakan benda lain sebagai pengganti siwak.Contoh lain : ‘makanlah makanan yang halal dan baik (risalah) vs makan dengan 3 jari.Contoh lain : ‘dilarang bersikap sombong’ (risalah) vs berpakaian diatas tumit.Kesimpulan : yang harus diikuti secara mutlak adalah risalahNya, bukan penerjemahan terhadap risalah tersebut. Sari : saya memperhatikan kalimat “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh…”, apakah itu berarti kita ada kemungkinan untuk dapat berjumpa dengan Allah?Ustd. Rusli : Ya, tentu saja kita dapat berjumpa dengan Allah.Farhan : bagaimana maksudnya? Berjumpa di dunia atau di akhirat?Ustd. Rusli : di akhirat bisa, namun berjumpa di dunia juga bisa. Tetapi jangan salah memaknai, ‘berjumpa’ disini tidak sama dengan ‘melihat’. inti kebahagiaan itu ada pada berjumpa, bukan melihat.Intan : kalau begitu, apa definisi ‘berjumpa’ disini?Ustd. Rusli : berjumpa adalah menyatunya subjek dengan objek, menyatunya manusia dengan Tuhannya, kembalinya manusia pada Allah, pada asalnya. Ingat, manusia berasal dari Allah, Allah adalah sumber segala materi. Berjumpa tidak harus dengan menggunakan panca indra. Berbeda dengan melihat, ‘melihat’ membutuhkan panca indra, membutuhkan cahaya. Kita hanya dapat melihat benda-benda yang telah dikenai cahaya, kemudian memantulkan cahaya tersebut, sehingga terlihat oleh mata. Sdangkan Allah adalah cahaya diatas cahaya, manusia dapat berjumpa denganNya tanpa panca indra. Sari : mungkin…, seperti yang digambarkan dengan ‘Allah sedekat urat lehermu sendiri?’Ustd. Rusli : ya, kalimat itu menggambarkan betapa dekatnya Allah dengan manusia, bahkan tak berjarak, betapa Allah itu ada dimana-mana, bahkan ada di dalam diri kita sendiri. tidak ada tempat dimana Tuhan tidak terlibat. Coba bayangkan saat ketika Allah masih sendirian, sebagai Yang Maha Terdahulu (Al Awal). Saat itu tidak ada satu zat-pun selain Allah itu sendiri. Kemudian Allah menciptakan alam semesta. Jangan berfikir ada zat lain yang dipakai Allah untuk meracik/menciptakan alam semesta, karena kalau sudah ada zat/bahan lain berarti Allah tidak sendirian, tidak sebagai Yang Maha Awal. Dan kenyataannya Allah menciptakan alam semesta ini termasuk manusia menggunakan sesuatu yang berasal dari Zat-Nya, merupakan bagian dari Zat-Nya!, tidak berasal dari luar Diri-Nya.Jadi hakikatnya Zat Allah meliputi seluruh alam semesta, ada pada setiap sel manusia. Makanya sampai ada sufi yang sudah memiliki tingkat keimanan dan kesadaran akan Allah yang tinggi sampai berujar “Saya ini Al Haq (Allah)”Jadi Allah Yang Maha Suci itu ada pada tangan kita, maka jangan kita kotori tangan kita dengan melakukan sesuatu yang dilarang Allah. Farhan : siapakah yang dimaksudkan dengan ahlul bait (keluarga nabi)?Ust. Rusli : umumnya yang dianggap sebagai ahlul bait adalah Ali bin Abi Thalib, Siti Fathimah, Imam Hasan dan Husein.Rini : teman saya yang kristiani bertanya, mengapa kita umat Islam selalu mendoakan Nabi Muhammad, sedangkan umat kristiani tidak pernah mendoakan Yesus. Kemudian, menurutnya lagi, semua umat kristiani akan masuk surga, karena dosa mereka telah ditebus oleh Yesus. Bagaimana menurut Ustadz?Ust. Rusli : kita tidak mendoakan Nabi Muhammad, yang ada, kita bershalawat kepadanya. Nabi Muhammad sesungguhnya tidak memerlukan do’a kita, sebaliknya kita bershalawat kepadanya demi kebaikan kita sendiri.Untuk pertanyaan kedua, itu hampir sama dengan pendapat sebagain orang islam yang mengatakan bahwa semua orang islam akan masuk surga. Saya pikir hal tersebut tidak sesuai dengan sifat keadilan Tuhan. 3. Surat Al-Ahzab (33) : ayat 21

Suri teladan yang baik

“sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu ) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. “ (QS. 33:21, versi DEPAG)mari kita perhatikan bahwa Alqur’an mengunakan kata Rasulullah pada ayat diatas, bukan kata Muhammad. Artinya, yang harus kita teladani adalah perbuatan-perbuatan keRasulannya yang tidak terikat oleh materi ruang dan waktu, bukan perbuatan Muhammad sebagai manusia biasa yang terikat oleh materi ruang dan waktu . Sebagai contoh : Nabi Muhammad suka memberi, tidak menyakiti orang dengan lidahnya, bersikap baik pada kawan maupun yang memusuhinya, dan lain sebagainya. Kebaikan Beliau itu bersifat universal, berlaku di semua tempat, sepanjang masa, dan sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Tetapi cara Beliau berpakaian, menyikat gigi, kendaraan yang belian pakai, itu adalah hal-hal yang tidak mutlak diikuti (sekali lagi, karena terikat oleh materi ruang dan waktu). Muhammad sebagai Rasul, pembawa Risalah, yang bernilai universal, dapat diikuti oleh semua manusia, namun Muhammad sebagai manusia biasa tidak seluruhnya dapat kita ikuti. Lalu, apa yang sesungguhnya yang paling utama untuk kita teladani dari rasulullah? Mari kita lihat ayat berikutnya : 4. Surat Al-Qalam (68) : ayat 4

Berahlaq mulia

“dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. 68 : 4, versi DEPAG)Nabi Muhammad dipuji karena akhlaknya “ Sesungguhnya kamu Muhammad benar-benar berada/memiliki akhlak yang sangat mulia”Akhlak adalah hal yang paling penting. Karena akhlak inilah Nabi mendapat gelar Al-Amin (orang yang terpercaya)Suatu hadist menyebutkan :“ Bu’itstu li utammima makarimal akhlaq”Saya datang dalam menyempurnakan akhlak.Akhlak bisa meliputi akhlak kepada dirinya sendiri, istri, anak, tetangga, bahkan kepada musuhnya (terlihat dalam berperang)Dari hal tersebut Nabi Muhammad bisa diteladani.Penting! “Jangan sampai menyakiti perasaan orang lain. Bersihkan pikiran, hati dan perbuatan, sehingga terpancarlah inner beauty, yaitu dengan cara berdzikir untuk membersihkan diri. Kalau orang tidak suka dekat dengan kita berarti ada sesuatu yang busuk dalam diri kita. Kalau kita berprasangka buruk/negative berarti kita telah menyimpan bangkai di dalam diri kita (hadits: kita memakan bangkai saudara kita…)Bercanda diperbolehkan asalkan tidak boleh berbohong dan terukur agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Hilangkan kebohongan.Tidak ada manfaatnya menyimpan benci dan dendam. Hanya menghabiskan energi positif kita saja. Karena marah, benci menguras energi paling banyak, sehingga tidak ada gunanya.Baik juga kalau kita berlatih membuang hal negative dari diri kita, misal dengan membuat check list setiap hari.

Mabit ala Laa Tahzan

Filed under: Mabit Ceria — laatahzan @ 12:16 pm

Kontibutor: Kak Intan

Sabtu, 25 Juni 2005
Asyiiik, Sabtu, bisa malas-malasan sepuas hati, hehehehe. Tapi klik, satu lampu menyala di pikiranku. Mabit euy!!! Wuaaaah, harus bangun nih. Rada-rada malas, aku bangkit juga dari kasur yang nyaman. Namun sekelebat muncul bayangan asyiknya Mabit pertama Laa Tahzan. Langsung aja jadi semangat, gembira. Cepat-cepat deh. Mandiiiii, udah siaaang, jangan sampai terlambat, janjian ngumpul di Sentra Mulia building jam sembilan bo!

08.00 ­ 10.00
Sari Sms, bilang mo singgah ke kantornya dulu, mo nge-print susunan acara. Kemarin gak sempat. Ok deh. Ruslan nelpon, minta maaf, tiba-tiba ada urusan mendadak yang gak bisa ditinggalkan, jadi gak bisa ikut mabit deh. Yaaaah, kecewa niiiih. Ernovipun kemudian berkabar ria, gak bisa ikut. Yaaaaah, kecewa lagi deh. Tapi, itulah untungnya di Laa Tahzan (jangan bersedih), hati bisa langsung diswitch jadi gembira lagi. Just click on the happy button,
select the happy face, yes! Gandi SMS, udah di Plaza Kuningan, katanya. Lho, kok di Plaza
Kuningan? Sambil jalan kaki ke Sentra Mulia kucoba nelpon Gandi, tapi HP nya sibuk. Nelpon Jayanti aja deh. “kami udah di Senmul, Kak, di 17, Aku, Gonata, Rini,” katanya. Siip. Nelpon Gandi lagi, “aku otw ke senmul, “katanya. Hehehe, rupanya Gonata udah reconfirm lagi ke Gandi
kalo kita janjian ketemu itu di senmul, bukan di Plaza Kuningan. Ketemu Gandi di lobby Senmul, naik ke 17, ketemu Gonata, Jayanti, Rini. “Elin mana?” tanyaku. “Dibawah, lagi sarapan,” kata Jayanti. Siip.
Nah, Farhan nelpon. Katanya dia harus ngantar istri tercinta ke RSPI dulu karena batuknya gak sembuh-sembuh juga udah dua minggu ini. Jadi mungkin agak telat nyampe ke cikeretegnya. Ok deh. Moga batuknya gak parah ya. Cepat sembuh, Amy. Amin. Junrial sms, udah di belakang senmul, katanya. Ok deh. Ayo kita turuuuun. Adduh, tapi lapar juga ya. Belum sarapan nih. Dasar!!! Kebetulan Gandi nawarin minum teh botol, siapa nolak!!! Sekalian aja aku pesan soto ayam tanpa nasi, sambil nungguin Sari yang udah start dari kantornya di gedung Aspac. Nah, itu Sari. Udah? Udah ngumpul semua? Gak ada yang ketinggalan? Intan, Gandi, Junrial, Jayanti, Rini, Gonata, Sari, Elin, yup, 8 orang. Ayuh, jalan.

10.00 ­ 12.00
meluncurlah kami ke cikereteg dengan mobilnya Sari dan Gandi, berhenti sebentar di dekat TMII, Gandi beli tahu. Wuah, enak bener tahunya. Alhamdulillah jalanan lancar, mulai agak macet hanya menjelang cikereteg (akhirnya gue tahu juga gimana nulis cikereteg yang benar, tanpa u, pakai g, bukan k). Sepanjang jalan kita hahahihi ngobrol ngalor ngidul. Gak puas Cuma ngobrol semobil, kita sms-an antar mobil menceritakan kelucuan yang terjadi di masing-masing mobil, hehehehe. Sampe akhirnya ada yang nyeletuk, “Jangan-jangan udah kelewatan nih, pasar cikeretegnya”.Wah, iya ya. Keasyikan ngobrol sih. Berhenti deh. Nanya deh. Bener deh. kelewatan deh. Muter deh. Balik deh. Untungnya belum jauh. Ketemu pasarnya, dekat AlfaMart, belok kanan. Masuk Desa Pancawati. Sekarang lebih konsen merhatiin jalan. Nyari-nyari vila yang namanya Pondok Safa-Marwa. Lumayan juga, banyak vila disini ya. Pemandangannya bagus. Hijauuuuuu!
Nah, itu dia, sebelah kiri jalan. Pondok Safa. Alhamdullillah, ketemu. Kali ini gak pake acara kelewatan deh. Sari turun membukakakan gerbang. Mobil masuk. Waaaah, bagus sekali. Halamannya memanjang dengan pepohonan di kiri kanannya. Langsung aja, ambil kamera,
foto-foto. Asyiiik. Kita disambut ama penjaga villanya. Namanya Mang Kus (kalo gak salah,
hihihihi, pelupa sih gue). Nurunin tangga, ketemu tiga villa yang ok punya. Wah, kita yang mana ya? Mang Kus bilang, “yang ini Neng, “. Yang tengah. Udah dibukain pintunya. Asyiiik. Villanya bagus, berbahan kayu. Kamarnya dua, gedhe-gedhe dengan kamar mandi yang besar berinterior alami di masing-masing kamar dan di dekat dapur. Ruang serba gunanya gedhe banget, ada dua set kursi duduk, satu set kursi makan dan di sudut yang kosong dibentangkan karpet. Hm, ntar kita lesehan di karpet aja ngajinya ya. Ustadz Rusli dan Bu Heti belum datang. Kita nongkrong deh di teras
belakang, menikmati hijaunya pemandangan, ngabisin tahunya Gandi, beragam biskuit, sambil ngobrol en tentu saja, foto-foto lagi, hehehe. Di atas ada teras juga rupanya. Juga disamping. Hmmm…

12.30 ­ 13.30
Ust. Rusli datang bersama Bu Heti dan dua teteh yang bakalan bantuin masak. Aduh, lupa euy! Gak sempat kenalan ama mereka. Cuma sempat kenal dengan anaknya aja, si Dewi, murid kelas I di SD Gratis Bantar Gebang milik Yayasan Guru-nya Ust. Rusli dan Bu Heti. Ustadz Rusli bergabung bersama kita di teras belakang. Diskusi makin seru, dari masalah haid sampai inferior complex-nya masyarakat Islam, sampai Sari mengingatkan bahwa kita belum sholat dhuhur. Wah..wah…ok deh. Sementara kegiatan di belakang layar tetap berlangsung, yaitu masak-masak buat makan siang.

14.00 ­ 16.00
makanan sudah siap, mari kita bersantap. Hmmm…. sedaaaap. Makasih Bu heti, makasih Teteh, hehehehe. Kita milih makan di teras belakang, lesehan dengan meja dari rotan. Baru tahu, kalo Sari ternyata gak makan nasi. Waaaah… selesai makan, kenyang, (ngantuuuk??? Hihihihi), kita mulailah pengajian. Materi 1, dengan tema : Cinta adalah suatu Kemestian. Tentu aja diramaikan dengan diskusi plus ketawa ketiwi, apalagi ada si Adek Kita Rini Inul yang sering mengundang tawa dengan gayanya yang menggemaskan (dan juga tarikan napasnya???hehehehe).

16.00 ­ 19.45
sholat Ashar berjamaah. imamnya Gandi ya? Lanjut dengan materi 2: Cinta versus rasa memiliki. Mo tahu isinya? Moga ntar bisa dibikinin summarynya yach! Ngaji selesai jam 17.30, menjelang maghrib. Mandi deh. Maghrib berjamaah dimami Junrial. Abis sholat kita wirid bersama. Selesai wirid, makanan udah siap (makan lagiiii?). Ustadz Rusli nanya, mo makan dulu ato sholat dulu? Semua milih sholat dulu. Gue sih setuju banget. Ayo kita sholat dulu, biar nanti makannya khusuk. Lho? Abis sholat, makan lagi, alhamdulillah. Enak banget sopnya, tempenya, semuanya. Duuh, pengen nambah teyus, hehehehe. Andai bisa mabit berminggu-minggu, barangkali aku bisa nambah berat badan nih.

19.45 ­ 23.30
Kita mulai deh materi 3: Ayat-ayat Cinta. Bukan ngebahas novel Ayat-ayat cinta itu lho ya. Ustadz Rusli cuma pengen bilang, kalo AlQur’an ini bukan Ayat-ayat syetan seperti yang dikatakan oleh Salman Rushdi, melainkan ayat-ayat cinta, surat cinta Allah kepada hambanya. Dan memang, kita menemukan begitu banyak ungkapan cinta Allah kepada kita manusia. Subhanallah. jadi malu sama Allah. “Ada yang mau kopi?” kata Gandi. Langsung aja gue angkat tangan. Mauuuu.Termasuk Rini, Jayanti, Bu Heti. Hmmmm, enaknya, minum kopi di malam dingin. Jadi segar rasanya, ngantuk tak berani mendekat, apalagi nangkring di mata. makasih Gandi, makasih Jayanti. Ditambah lagi, Farhan datang. Bawa jeruk, bawa apel, tambahan kopi, indomie, dan makanan lain. Sueeeenaaaangnyaaaaa… Walo materi udah berakhir, diskusi tetap jalan. Santai tapi berbobot, ceria tapi serius, sampai bu Heti menyarankan agar kita sebaiknya tidur, supaya nanti segar waktu bangun untuk sholat tahajud. Bener juga. Ok deh ibu. Tidur yuuuk…

23.30 ­ 03.15
tidur dengan suksesnya!!!

Ahad, 26 Juni 2005
03.15 ­ 05.30

Aku terbangun dengar jayanti bilang, “Kak Intan, sholat tahajud.” Kaget lihat Sari udah rapi dengan mukenanya, apalagi sayup-sayup dengar ada yang baca Qur’an. Haah, gue terlambat bangun nih? “Sholatnya udah mulai ya?” tanyaku. “Udah kayaknya,” kata Sari sambil bergegas. Wah, aku langsung lompat dari tempat tidur sambil bangunin Rini. Buru-buru ke kamar mandi dan berwudhu. Buru-buru pakai mukena dan segera ke ruang serbaguna. Eh, ternyata… sholatnya belum mulai. Lantunan ayat yang kudengar tadi rupanya suara Elin yang mengaji, membaca qur’an. Lega deh. Gue belum telat.

Setelah siap semuanya, barulah kita sholat tahajud berjamaah 8 rakaat dengan witir 3 rakaat. Mencoba mendekatkan diri pada Allah, semoga bisa istiqomah berusaha melakukan hal-hal yang akan membuat kita pantas untuk dicintai olehNya. Memuji, memohon, meminta, menghamba padaNya. Sungguh beda rasanya. Sekilas aku teringat dengan sekian banyak sholatku yang dilakukan dalam suasana terburu-buru. Tuhan, ampuni aku, ampuni kami, cintai Kami, tuntun kami meraih Rahmat Mu,
amin.

Subuh datang. Kami sholat bersama dalam suasana yang belum berubah. Damai. Ingin selalu damai, seperti ini…

05.30 ­ 10.00
Pagiiiii
Ternyata bisa juga ya gue, gak tidur lagi abis subuh, hehehe. Again, diskusi di meja makan, dari masalah cinta, poligami ampe…, wah, banyak deh, termasuk Farhan yang bilangin kita agar cepat-cepat merit. wah, pengantin baru nih ya. Sarapan dengan mie goreng, telur, nugget yang dibawa Farhan semalam, uenak tennan. Berkahi makanan kami ya Allah. Nah, ini nih. Begitu mentari gak malu-malu lagi, kita juga gak malu-malu telanjang kaki alias nyeker Menn! Menuruni jalan di belakang villa. Awalnya ada tangganya sih, tapi tetap harus hati-hati, agak licin soalnya. Foto lagiiiii. Ketemu dua kolam renang, tapi gak ada yang minat untuk berenang ya? Hehehehe. Ya udah, lanjut lagi perjalanan. Ketemu sungai, nyebrang deh. Untung dalamnya cuma sebetis dengan lebar sekita dua meter. Foto lagi. Waaaah, sawah!!! Ketemu Mang Kus yang lagi nanam padi. Ayo Mang, senyun dulu, kita fotoin. Jepret! Yup, jadi deh. Manis nian senyumnya.

Dengan hati-hati kita jalan di sepanjang pematang sawah. Hati-hati biar gak terpeleset, hati-hati biar gak salah menginjak padi. Mau kemana kita? Menuju air terjun bo! Nah, itu dia! Langsung aja pada ngambil posisi, foto lagi, foto lagi. Tapi Junrial mana ya? Oh, lebih tertarik ngobrol ama pak tani rupanya. Puas deh. Senang deh. Balik deh, ke Villa. Melalui jalan yang sama. Menyusuri pematang sawah, menuruni dan menyebrangi sungai, kolam tenang, tangga yang memutar. Foto-foto lagi di halaman villa, di tangga teras villa, cuci kaki, masuk villa, dan nonton foto-foto di
kameranya Farhan yang didisplay di TV. Bagus banget fotonya. pada gaya abis! Lucu-lucu, hehehehe.

The last episode, kita diskusi tentang Laa Tahzan. Laa Tahzan kemarin, Laa Tahzan sekarang, Laa Tahzan mendatang. Beberapa ide muncul demi kebaikan Laa Tahzan. Apakah itu? Ntar dirilis ama teman yang lain ya. Ehem, tapi saya bocorin satu deh, Mabit berikutnya kita rencanakan September, menjelang Ramadhan, Insya Allah. So, arrange your schedule, guys.

Tiba saatnya untuk pulang. Salam-salaman. Makasih Ustadz Rusli, makasih Bu Heti, udah membimbing kami. makasih juga buat Bu Rini dan dr. Dedi yang udah minjamin villanya gruaaatissss. Makasih Sari, makasih Gonata, makasih jayanti, udah ngurusin mabit kali ini. Makasih Farhan, tuk dukungan semangatnya. Makasih Junrial, Gandi, Elin, Rini, for sharing a really great moment. En, of course, thank’s for all of you, Laa Tahzan-ers. May Allah Bless you all, amin.

See U all friends, in the next Mabit. Don’t miss it!!!

Posted By Nopee for LaaTahzan

June 21, 2005

Ma’rifatullah (Bag.1)

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — laatahzan @ 7:16 am

Summary Kajian, 18 May 2005

Disampaikan oleh Ustadz M. Muhammad Rusli Malik
Disalin oleh Intan KD (kalo ada yang salah, salahin yg nyalin ya….)

Peranan Akal
Sebelum membahas Ma’rifatullah, akan dibahas dulu hubungan antara ma’rifatullah dan ma’rifatunnas. Dalam pelajaran kita mengenai ma’rifatunnas, telah diketahui bahwa inti dari manusia itu adalah akalnya. Yg jadi agen pengganggu adalah hawa nafsunya, namun kita juga memerlukan hawa, sehingga hawa ini tidak bisa dihilangkan. Dan akal adalah satu-satunya instrumen yang bisa membawa kita kepada Allah, mendekati Allah.
Yang dimaksud dengan mendekati Allah disini bukanlah dalam pengertian fisik. Lalu bagaimana kita bisa menjadi dekat atau menjadi jauh dari Allah? Ternyata dekat jauhnya kita dari Allah tergantung kepada akal kita.

Cahaya Allah
CiptaanNya, yang memancar dari diriNya
Musyahadah, Akal tidak bisa lagi digunakan
Mujahadah, Akal digunakan

(Ada gambarnya nih, cuma belom di upload…sabar yach…:-))

Allah adalah awal dan asal dari segala sesuatu di alam ini. Allah menciptakan alam dan seisinya, serta menetapkan hukum-hukum yang berlaku pada ciptaannya tersebut. Dan sebagai Pencipta, tentu saja hukum-hukum tersebut tidak berlaku bagi Allah. Misalnya, Allah menciptakan bumi, dan menetapkan hukum gravitasi bagi bumi. Maka tentu saja hukum gravitasi tersebut tidak berlaku bagiNya.

Bagaimana kita dapat mendekati Allah? Kitalah yang harus ‘naik’ agar dapat mendekati Allah. Ibarat seseorang berada dalam ruangan dengan cahaya lampu. Bagaimana agar dia dapat memperoleh cahaya yang dengan intensitas yang lebih banyak? Tentu dialah yang harus bergerak mendekati lampu tersebut, mendekati sumber cahaya tersebut. walaupun tentu analogi ini tidak tepat sama, namun begitu jugalah dengan Allah SWT. Satu-satunya cara untuk dapat mendapatkan cahaya Allah adalah dengan mendekatiNya. Bagaimana mendekatiNya? Gunakanlah akal.

Dengan akallah kita dapat memahami hukum-hukum alam. Dengan mengenal hukum alam, mengenal ciptaanNya, makhlukNya, kita dapat mengenal Allah. Tetapi begitu kita sampai pada cahaya Allah, menyatu denganNya, maka akal tidak terpakai lagi. Kenapa? Karena Allah tidak tunduk pada hukum akal. Masih ingat dengan prinsip-prinsip akal yang pernah dibahas sebelum ini? Akal itu bekerja dengan prinsip non kontradiktif, prinsip kausaliatas dan prinsip matematis. Prinsip-prinsip itu (harus) kita pakai untuk dapat mencapai Allah, namun setelah kita mencapaiNya, prinsip itu tak berlaku lagi.

Allah tidak tunduk pada hukum non kontradiktif; Hukum kausalitas tak berlaku lagi, karena Allah tak sersebabkan lagi, Dia bukan akibat dari sebab-sebab yang lain, Dia adalah sebab utama (Causa Prima); Dia tak dapat dibagi, tidak dapat dihitung, tidak dapat diperbandingkan, tak ada yang sebanding dengan Dia, hukum matematis tak berlaku lagi. Akal tak terpakai lagi. Maka akal ternyata bukanlah segala-galanya. Akal kita gunakan hanya untuk me-ma’rifat Allah, untuk mengenal Allah. Ibarat tangga, kita menggunakan tangga untuk naik ke suatu tempat yang tinggi. Tapi bila kita telah sampai pada tempat yang tinggi tersebut, kita tidak perlu lagi menggunakan tangga tersebut. Kita akan gunakan lagi tangga tersebut untuk turun ke tempat semula. Begitu juga dengan kita manusia. Walaupun seseorang telah mencapai Allah, dia tetap harus menggunakan akalnya dalam berhubungan dengan manusia dan makhluk lainnya, dia harus berbahasa dengan bahasa yg difahami oleh manusia, bahkan dalam hal menerangkan hakikat Ketuhanan.

Empat perjalanan manusia
Ada empat perjalanan manusia, disebut Al-Asfar Al arbaah. Al-asfar berasal dari kata safar, musafir, berjalan. Al – arba’a berarti empat.
perjalanan dari manusia Ke Tuhan (Mujahadah)
perjalanan dari tuhan dalam tuhan (Musyahadah)
perjalanan dari tuhan ke manusia
perjalanan dari manusia ke manusia

ad.1. Mujahadah
Mujahadah adalah perjalanan pertama manusia. Mujahadah berasal dari kata jahada, jahidu, jihad, artinya berjuang, memaksakan diri. Mujahadah adalah perjalanan yang penuh perjuangan untuk mengenal Allah, menyadari kehadiran Allah. Dalam usaha kita untuk ‘naik keatas’(tidak secara fisik lho ya), ada hawa yang akan selalu menarik kita ‘kebawah’, sehingga Alqur’an menyatakan “kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (QS. 95 : 5). Bila berhasil, kita akan sampai ke ‘atas’, sampai pada musyahadah.

Ad.2. Musyahadah
Kalau kita sampai ‘keatas’, itu dinamakan Musyahadah, berasal dari kata syahadah, syahid, menyaksikan. Inilah perjalanan dimana seseorang sudah menyatu dengan Allah, perjalanan dari Tuhan dalam Tuhan. Seperti Al-Hallajj, sehingga ia berkata, “Annal haq” (akulah kebenaran). Namun walaupun seseorang itu telah menyatu dengan Allah, dia harus menggunakan bahasa manusia ketika berkomunikasi dengan manusia. Seperti bila kita sudah memahami ilmu matematika yang mendalam, kita harus menggunakan bahasa yang sederhana ketika mengajarkan berhitung kepada anak kecil. Seperti juga Nabi, dia berbicara dengan bahasa kaumnya, dia tidak berbicara berdasarkan keindahan rasa yang dia alami bersama Tuhan.

Sari :
Apakah yang dimaksud disini, Allah berarti tidak terjun langsung dalam proses mendekati manusia? Sehingga Ia misalnya, kemudian mengirim jibril, mengutus Nabi Muhammad?

Ust. Rusli :
Sebelumnya harus difahami dulu bahwa yang kita maksud disini bukanlah dekat dalam pengertian ruang dan waktu. Jangan membayangkan Allah itu duduk di suatu tempat tertinggi dan kemudian kita bergerak mendekatiNya. Bukan begitu. Tetapi mendekat disini bermakna dekat dalam pikiran. Tuhan itu ada dimana-mana, tetapi bila kita tidak menyadari kehadiranNya, Dia akan terasa jauh. Sama seperti bila dua orang duduk berdekatan, namun tidak saling mengenal, tidak saling menyapa, maka akan terasa jauh.

Ad.3. Perjalanan dari Tuhan ke manusia
Setelah manusia mencapai tahap musyahadah, ia harus mampu ‘turun’ lagi, jangan terjebak, berhenti di musyahadah, hingga mengalami suatu egoisme spiritual, merasakan kenikmatan bersama Tuhan untuk dirinya sendiri. Padahal kenikmatan tertinggi sebenarnya adalah ketika apa yang dicapainya di perjalanan musyahadah-nya itu, bisa dibawa ‘turun’, dibagi dengan manusia lain. Sama seperti seseorang yang merasakan nikmatnya suatu makanan, kenikmatannya akan terasa lebih tinggi lagi, bila ia bisa membagi makanannya tersebut dengan orang lain. Orang seperti Al-Hallaj, tidak membagi apa yang diperolehnya di musayahadah-nya dengan bahasa manusia, sehingga kemudian sulit untuk diterima manusia lain, terkesan tidak masuk akal. Seperti juga kisah Syeh Siti Jenar, yang mengatakan, “akulah Allah”, sehingga ia dihukum.

Ad.4. Perjalanan dari manusia ke manusia
Inilah perjalanan keempat, perjalanan manusia untuk menegakkan keadilan, yang merupakan tugas kekhalifahan, tugas Para nabi, para alim ulama dan tugas seluruh manusia, sebagaimana pada ayat Alqur’an yang sering disitir oleh para khatib sholat Jumat, QS. An-Nahl (16) ayat 90 : “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan menolong keluarga yang dekat dam melarang dari mengerjakan yang keji dan yang munkar dan kedhaliman. Ia menasehati kamu, supaya kamu ingat.”

Diskusi
Doni :
Perjalanan yang empat ini, bisa terpisah-pisah atau harus berurutan?

Ust. Rusli :
Ada yang langsung masuk ke perjalanan ke empat, misalnya teman-teman kita di LSM yang memperjuangkan keadilan. Namun resikonya, apa yang dilakukan menjadi tidak ada nilai ilahiahnya dan bisa jadi bernilai pamrih. Ikhlas, tanpa pamrih, hanya akan dapat dicapai bila kita telah melalui perjalanan sebelumnya. Mengapa? Karena orang-orang yang telah mengalami nikmatnya bermusyahadah dengan tuhan akan tabah dalam menghadapi setiap tantangan dan kesulitan yang ada ketika berhubungan dengan manusia. Kesulitan itu tak berarti bila dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkan bersama Tuhan. Ia akan melakukan semua perintah Tuhan dengan kecintaan. Seperti para nabi yang dihujat, diusir oleh kaumnya.

Rizal :
Apa kriteria bahwa seseorang itu sudah mengenal Tuhan? Jangan sampai terjadi, seseorang merasa sudah mengenal Tuhan, padahal ternyata ia salah. Perasaan yang bagaimana yang muncul ketika seseorang benar-benar merasakan kehadiran Tuhan? Bagaimana dengan seseorang yang tidak punya pengetahuan banyak tentang Tuhan, tetapi ia dapat merasakan Tuhan? Dan bagaimana menentukan dimana batasan akal itu dapat atau tidak dapat lagi digunakan?

Ust. Rusli :
Akal kita gunakan untuk dapat mengetahui, kemudian mengenal Tuhan. Tanpa pengetahuan tentang Tuhan, kita bisa tertipu oleh perasaan-perasaan kita, pikiran-pikiran kita. Dikatakan bahwa perjalanan menuju Tuhan itu memang banyak perompak-perompak yang dapat membuat kita salah jalan. Seperti Lia Aminuddin yang kemudian mengangkat dirinya menjadi orang suci (nabi?). dan rasa mengenal Tuhan itu memang tidak bisa digambarkan, tidak bisa diceritakan, hanya akan dimengerti oleh mereka yang merasakannya. Sebagaimana kita tidak dapat menerangkan dengan tepat bagaimana rasanya teh botol ini. Kalau seseorang ingin tahu, suruhlah ia meminum teh botol tersebut, daripada mencoba untuk menceritakannya. Demikianlah pula dengan spiritualitas itu, tidak bisa digambarkan. Kalaupun dicoba untuk menggambarkan, akan menggunakan bahasa manusia, yang sarat dengan perumpamaan.

Intan :
Kalau begitu, bisa jadi apa yang dilakukan oleh Lia Aminuddin itu bukan karena dia ingin mencari harta atau pengikut atau hal-hal keduniawian lainnya, melainkan karena memang dia merasa benar, dia meyakini apa yang dia pikirkan dan rasakan, dan kemudian menyampaikan kepada orang lain, padahal dia tertipu oleh perasaannya sendiri.

Ust. Rusli :
Bisa jadi begitu. Makanya kita harus menggunakan akal kita untuk mengenal Allah. Coba lihat QS 62:2 yang menyebutkan tugas rasulullah, yaitu mengajarkan kepada kaumnya ayat-ayatNya (bukan AlQur’an maksudnya, tapi tanda-tanda kebesaran Allah), lalu membersihkan diri mereka, baru kemudian mengajarkan kitab suci (AlQur’an), dan terakhir, mengajarkan hikmah. Puncak dari perjalanan manusia adalah memperoleh hikmah.

Rizal :
Kalau seseorang sudah melaksanakan perintah agama, misalnya seperti melaksanakan sholat, berpuasa, membayar zakat, dll, sebagai salah satu cara untuk mngenal Tuhan, apakah ia masih perlu mengenal Tuhan secara khusus?

Ust. Rusli :
Dalam AlQur’an tidak disebutkan bahwa pelaksanaan ibadah yg tadi disebutkan adalah sarana untuk mengenal dirinya. Tuhan mengenalkan diriNya melalui nama-namaNya. Allah mengimplementasikan kehendakNya melalui alam dan kitab (Alqur’an). Karena alam dan alkitab sama-sama bersumber dari diriNya, maka keduanya tidak mungkin bertentangan, terjadi cek dan ricek antara keduanya. Maka ini merupakan salah satu cara untuk menguji kebenaran kitab suci, atau juga untuk menguji kebenaran teori ilmu pengetahuan. Nah, sekarang, kita mengenal Allah, melalui tafakur (berpikir) dan tazakkur (berzikir). Tafakur tentang alam, zikir melalui kitab, melalui asma Allah. Jadi pada hakekatnya, sebenarnya setelah kita mengenal Tuhan, barulah kita sholat. Sholat adalah kendaraan bagi kita untuk mi’raj kepada Allah. Ingatlah, pada periode Mekkah (13 tahun) tidak ada perintah-perintah mengenai fiqh, yang ada adalah mengenai iman, pengenalan kepada Tuhan. Kita sekarang terbalik. Kita kenal pada fiqh dulu, baru kemudian berusaha mengenal Allah.

Intan :
Well, jadi selama ini saya tidak mengenal Tuhan yang saya sembah

Ust. Rusli :
Benar, kata orang arif, selama anda belum mengenal Tuhan dengan benar, jangan-jangan yang Anda sembah adalah Tuhan yang anda ciptakan dengan pikiran Anda sendiri. Seperti bila kita membayangkan Tuhan ada didepan kita ketika sholat. Apa benar Tuhan ada didepan kita? Padahal Dia tak terikat dengan ruang. Dia ada dimana-mana. Kita diliputi oleh Allah, Allah ada didalam diri kita, kita tak dapat melepaskan diri dariNya.

Doni :
Mungkin bisa kita umpamakan seperti ikan dalam air. Dalam tubuh ikan ada air, dan ikan ada di dalam air, dan ikan tak bisa lepas dari air.

Ust. Rusli :
Perumpamaan yang bagus sekali.

Sari :
Ust. Kadang saya sholat di dalam mobil, ketika jalan macet, apa itu tidak apa-apa? karena saya khawatir kehabisa waktu sholat, dan daripada tidak berbuat apa-apa di dalam mobil. Ternyata setelah saya sholat, jalanan menjadi lancar.

Ust. Rusli :
Tidak apa-apa. Itu adalah ritual yang harus kita lakukan. Walaupun bagi mereka yang sudah mencapai musyahadah, itu adalah gerakan-gerakan ritual yang harus mereka lakukan ‘hanya’karena mereka harus berbicara dengan manusia. Padahal pada hakekatnya, perasaan mereka kepada Tuhan sama, baik didalam ritual sholat ataupun tidak. Mereka ‘sholat’ setiap saat. Tetapi kita harus berhati-hati juga dalam hal mengubungkan-hubungkan suatu ritual yang dilakukan dengan yang kemudian terjadi. Misalnya : jalanan menjadi lancar karena saya tadi sholat.

Jayanti :
Kalau misalnya saya punya keinginan, kemudian saya berdoa, dan kemudian keinginan saya itu tercapai, dan saya berpikir, “ternyata Tuhan itu dekat, Dia mendengarkan saya”, apakah itu juga termasuk menghubung-hubungkan seperti yang Ustadz maksud?

Ust. Rusli :
Mengapa hanya menyadari kehadiran Tuhan ketika doa kita terkabul? Mengapa kita menunggu hal yang demikian untuk dapat membuat kesimpulan bahwa tuhan itu dekat? Apakah itu berarti Tuhan itu jauh, sebelumnya? Nah, maksud saya, sebenarnya Tuhan itu pada dasarnya dekat, baik doa kita dikabulkan ataupun tidak. Bukankah Dia telah menyediakan semunya untuk kita? Oksigen yang kita hirup setiap saat, misalnya. Apakah para nabi yang dihujat, dilempar batu, diusir oleh kaumnya itu kemudian bisa kita artikan bahwa Tuhan jauh dari mereka? Tuhan tidak menolong mereka? Tidak mengabulkan doa mereka? Kesimpulannya, Tuhan itu dekat atau tidak, bukan karena doa kita dikabulkan atau tidak.

Jayanti :
Bagaimana dengan orang-orang yang kita anggap sangat dekat dengan Tuhan karena ibadahnya? Bolehkah kita minta didoakan olehnya?

Ust. Rusli :
Boleh saja minta didoakan kepada orang saleh. Tetapi hati-hati juga, jangan sampai kemudian terjadi komersialisasi kemampuan berdoa.

Jayanti :
Atau misalnya, bagaimana dengan kita yang suka menitipkan doa pada orang yang pergi haji, karena disana banyak tempat yang mustajab untuk berdoa?

Ust. Rusli :
Kalau semua doa kita ketika naik haji itu dikabulkan, seharusnya umat islam menjadi umat yang paling berhasil di seluruh dunia. Nyatanya tidak. Pernah dengar cerita tentang seorang pemuda yang ingin punya anak? Dia lalu minta nasehat pada seorang kyai. Kyai menyarankan dia untuk sholat malam dan berdoa, dia laksanakan selama bertahun-tahun hal demikian, tapi belum punya anak juga. Lalu sang kyai menyarankan dia untuk naik haji, karena disana banyak tempat yang mustajab untuk berdoa, dia laksanakan, dan belum juga punya anak. Pak kyai menyarankan dia untuk naik haji lagi, karena doa memang harus diulang. Maka dia naik haji tiga kali berturut-turut dalam tiga tahun, tapi belum juga punya anak. Akhirnya kyai bertanya apakah pemuda itu sudah menikah atau belum, dan ia menjawab belum. Nah, bagaimana mau punya anak kalau belum menikah? Ini hanyalah contoh bahwa doa itu tak berarti bila tidak disertai dengan ikhtiar, terutama doa yang berkaitan dengan hal-hal materiil.

Intan :
Bagaimana fungsi doa sebenarnya? Bukankah ada juga orang yang berhasil mencapai keinginannya dengan usaha saja, walo tanpa berdoa?

Ust. Rusli:
Ini akan kita bahas dalam kajian kita selanjutnya. Akan ada sesi khusus dalam ma’rifatullah tentang doa. Tetapi baiklah, mari kita bahas sebentar. Doa itu sangat penting. Bagaimana peran atau fungsinya, itu tergantung kepada apa yang kita inginkan. Bila yang kita inginkan adalah kedekatan dengan Tuhan, bermusyahadah, maka doa menjadi tulang punggung, dan usaha menjadi kulitnya saja. Tetapi bila yang kita inginkan adalah hal-hal materiil, seperti kesuksesan dalam belajar, karir, maka usaha menjadi tulang punggung terkabulnya keinginan itu, dan doa menjadi kulitnya.

Rizal :
Doa bisa memberikan efek psikologis yang positif.

Ust. Rusli :
Benar, doa bisa memberi motivasi. Seperti yang saya tulis di buku ‘Puasa’ saya, ada beberapa fungsi doa. Yang pertama, doa itu berfungsi sebagai mision statement. Misalnya kita berdoa, “ya Allah, izinkanlah saya memiliki mobil”, maka jelas, keinginan kita adalah memiliki mobil. Yang kedua, doa memberi motivasi. Segala sesuatu yang disampaikan kepada pihak lain, itu akan menambah motivasi. Yang ketiga, doa akan menjaga konsistensi misi, doa yang disampaikan terus menerus akan membuat keinginan menjadi ketetapan. Yang keempat, doa menjadi backup. Maksudnya, bila kita berhasil, kita tidak menjadi sombong (semua ini karena Allah), dan kita tidak menjadi depresi bila gagal (ada yang lebih baik menurut Allah buat saya). Dan saya yakin, doa tidak akan merubah sesuatu secara ‘simsalabim’. Berapa banyak orang yang berdoa untuk keselamatan kaum muslimin di palestina dan lani-lain, tapi tidak terjadi apa-apa. Bukankah Allah sudah mengatakan, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum tersebut tidak mengubah dirinya sendiri.

Doni :
Pernah dengar perumpamaan dari Aa Gym, usaha itu ibarat menanam benih, dan doa ibarat memberi pupuk. Tanaman dapat tumbuh tanpa pupuk, tapi tentu tidak maksimal.

Ust. Rusli :
Benar, bisa diumpamakan demikian.

Intan :
Bagaimana dengan sikap menyalahkan Tuhan bila apa yang kita inginkan, yang kita usahakan tidak tercapai?

Ust. Rusli :
Itu tergantung pada cara pandang seseorang terhadap Tuhan. Segala sesuatu kebaikan yang kita dapatkan di dunia ini berasal dari Tuhan, karena yang kita gunakan untuk mencapainya adalah milik Tuhan, misalnya, otak yang kita pakai ini. Tapi kalau ada kejelekan, itu karena kita sendiri, karena kita yang kurang tepat dalam memanfaatkan potensi yang sudah diberikan.

Berlanjut ke Kajian Rabu berikutnya…..

Next Page »

Blog at WordPress.com.