LaaTahzan

September 13, 2009

RAMADHAN BERSAMA LAA TAHZAN dengan Adik Asuh Anak Pemulung Bantar Gebang 29 Agustus 2009

Filed under: Belajar Berbagi — ehary @ 6:38 pm

Laporan Pertanggungjawaban Panitia Acara ‘Ramadhan Bersama Laa Tahzan 2009′

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Segala puji dan syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT atas ridho dan kehendakNya semata telah dilangsungkan acara ‘Ramadhan Bersama’ pengajian Laa Tahzan dengan adik asuh anak pemulung Bantar Gebang dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1430 Hijriyah.

Acara diadakan bertempat di kediaman Ustadz Rusli Malik di bilangan Limus Pratama, Jl. Sumenep I Blok B No. 32 Bekasi. Acara dimulai pukul 15.00 WIB dan berakhir pada pukul 18.30 WIB. Acara dihadiri oleh 50 orang adik asuh dan 6 orang ibu pengajar.
Secara garis besar, susunan acara ‘Ramadhan Bersama’ yang diadakan adalah sbb:
1. Games untuk adik asuh dengan pemberian goodie bag di akhir games
2. Buka puasa bersama dengan adik asuh
3. Pemberian bingkisan berupa sembako dan uang zakat kepada para peserta (adik asuh dan pengajar) di akhir acara


Kami selaku panitia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, yaitu para donatur, yang telah ikhlas dan ridho untuk menyisihkan sebagian penghasilannya; Ustadz Rusli Malik dan Ibu Hetty atas kesediaan waktu dan tempatnya; para anggota panitia acara yang telah menyisihkan waktu dan tenaganya demi kelangsungan acara; teman-teman pengajian Laa Tahzan yang telah hadir pada saat acara; dan kepada pihak-pihak lain yang tak dapat disebutkan satu persatu atas kontribusinya baik dalam persiapan maupun pada saat prosesi acara. Jazzakumullah Khoiran Katsiro.

Subhanallah, di luar ekspektasi kami, dalam kurun waktu dua minggu, telah terkumpul dana berupa zakat dan infaq sebesar kurang lebih Rp..324.500.000,- (di luar dana sosial LT). Dana tersebut digunakan untuk pembelian makanan berbuka, goodie bag, paket sembako, dan paket uang zakat untuk adik-adik asuh dan para pengajarnnya. Saldo dari acara ini sebesar Rp 10.679.525,00 telah disalurkan dalam bentuk kegiatan Sahur Laa Tahzan on the Road (SALTO) yang diadakan pada hari Minggu, tanggal 6 September 2009. Adapaun LPJ untuk kegiatan SALTO akan menyusul.
Detail laporan keuangan kegiatan ‘Ramadhan Bersama’ ini dapat dilihat di attachment di bawah.


LAPORAN DANA , dapat dilihat secara detail

Picture1

SUSUNAN PANITIA

Steering Committee:
- Intan Kemala Dewi
- Ernovi C. Esra

Ketua :
- Maulana Arifani
- Darmaz

Dana :
Ernovi E. Esra

Sekretaris :
Chlara Pujiningrum

Bendahara :
- Cicik Sukma (PJ)
- Ice Frazana

Sie Acara :
- Rini Trismianti (PJ)
- Lulu
- Emma
- Dewi

Sie Bingkisan :
- Devi Rahayu (PJ)
- Mega Ardhiani Puspa
- Anggi
- Cucuk
- Fatmawati Mappa / Cece

Sie Konsumsi :
- Faradina Deliani (PJ)
- Artha
- Risma

Sie Transportasi :
- Maulana Arifani (PJ)
- Gandhi
- Eddy
- Trias

Sie Perlengkapan :
- Lulu (PJ)
- Elin
- Natarini
- Gandhi

Sie Dokumentasi :
- Dhani (PJ)


KATA PENUTUP

Ucapan terima kasih yang tiada terkira, kami ucapkan kepada rekan-rekan yang namanya tidak dapat kami sebutkan satu persatu, atas segala kebaikan hati kalian yang telah meluangkan waktu dan tenaga, atas kritik dan saran yang diberikan, serta dukungan moril maupun spiritual demi kelancaran acara. Jazzakumullah Khoiran Katsiro.

Tak lupa pula kami haturkan terima kasih kepada para pengurus pengajian Laa Tahzan masa bakti tahun 2009 yang telah menunjuk dan memberikan kepercayaan kepada kami sebagai panitia in-chargeacara Laa Tahzan di bulan Ramadhan 1430 H.

Dan semoga apa yang telah diberikan kepada adik-adik asuh dapat bermanfaat untuk bersama-sama dinikmati dengan anggota keluarganya yang lain, subhanalloh.

Demikianlah laporan pertanggungjawaban ini kami sampaikan, perkenankanlah kami memohon maaf jika ada perkataan dan perbuatan yang tidak berkenan di hati. InsyaAllah, hal tersebut dapat menjadi bahan introspeksi dan evaluasi diri di kemudian hari. Amin.

Wassalam,
a.n. Panitia ‘Ramadhan Bersama Laa Tahzan 2009′


August 28, 2009

DALAM AL QURAN, MEMUSUHI TERORISME DAN PENGRUSAKAN KEMANUSIAAN

Filed under: Pengajian Rabu Ceria — ehary @ 6:18 am

IMG_2373

Ramadhan tiba. Nggak kerasa udah hampir seminggu. Dan cepat atau lambat kita akan berpisah dengan Ramadhan. Sedih tentunya. Selamat berasik masyuk dengan Ramadhan kepada semuanya. Fokuskan lahir dan bathin untuk menjadi pribadi yang super, pribadi yang taqwa.

Postingan kali ini adalah rangkuman dari bahasan Ustad Muhammad Rusli Malik pada tanggal 27 May 2009 di pengajian LaTahzan.

Tak henti-hentinya memang, islam sebagai agama pembawa kedamaian dicoreng dengan tindakan pengrusakan, dan teror. Tak ayal, pandangan salah dunia luar tentang islam sebagai agama yang brutal pun seolah terbenarkan dengan adanya aksi bom bunuh diri yang mengatasnamakan islam. Sungguh kebetulan, Ustad Rusli telah membahas ayat-ayat dalam Al Quran yang ber -tema penting bahwa islam adalah agama kedamain (anti-terorisme) pada tanggal 27 May 2009, dimana selang beberapa minggu setelah itu (pertengahan Juli 2009), jakarta di teror dengan bom di dua hotel hampir bersamaan. Seolah, kebetulan ini membekali para kader LaTahzan, untuk tetap semangat memperjuangkan nilai-nilai luhur islam yang sebenarnya, yaitu kedamain, keadilan, dan menjunjung tinggi hakekat azasi kemanusiaan. Dengan adanya rangkuman ini, semoga para kader LaTahzan dapat kembali teringatkan. Atau pembaca secara umum, mungkin bisa mengambil sedikit pelajaran.

Di dalam agama islam, hukum-hukum yang berhubungan dengan perlindungan jiwa manusia dalam bermasyarakat ternyata diatur langsung dalam Al Quran. Sumber yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sumber yang tidak ada pertentangan darinya, karena Allah SWT sendiri yang telah mengaturnya.

Maka ketika ada yang bertanya “Dasar apa yang bisa membuktikan bahwa tindakan terorisme itu bertentangan dengan islam?” maka sebagai muslim, yang tidak akan tinggal diam membiarkan citra islam dirusak, menjadi lebih dari keharusan untuk tahu, dan memberikan penerangan dengan bukti-bukti jelas, yaitu merujuk kepada Al Quran.

Jika anda tidak hapal ayatnya, setidaknya anda tau dimana mencarinya dalam Al Quran, yang insya Allah hampir semua muslim punya. Mari kita merujuk ke surah Al Maidah ayat 27 s.d 32. Akan lebih jelas, jika anda bisa membaca sendiri langsung dan mendalami ayat per ayat sampai dengan ayat 40 dari mushaf yang anda punya. Tapi untuk mempersingkat, maka saya akan coba rangkum.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia (yang tidak diterima kurbannya) berkata, ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata (yang diterima kurbannya), ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuhku) dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka. Hal yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. Hawa nafsu (yang tidak diterima kurbannya) menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah. Maka, jadilah ia sorang diantara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (si pembunuh) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata (si pembuhuh), ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu, jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.” (Al Maa’idah:27-31)

Ini adalah ayat-ayat yang menceritakan tentang pembunuhan manusia yang pertama di muka bumi. Lebih dikenal dengan kisah “Qabil dan Habil”, anak-anak nabi Adam a.s. Dimana ini terjadi pada masa awal peradaban manusia, bahkan Allah mengajarkan langsung bagaimana menguburkan mayat dengan mengirimkan percontohan binatang (burung) yang menguburkan bangkai burung lainnya sesaat setelah burung itu mati.

Di sini jelas, ketakwaan Habil yang menjadikan kurbannya diterima Allah SWT, sementara kurban Qabil tidak diterima. Dan iri hati Qabil telah mengobarkan Hawa nafsu dia menjadi menang, bahkan menjadikannya mampu membunuh saudaranya sendiri. Jelas, betapa janganlah kita menganggap enteng tentang penyakit kecil iri hati, dan hawa nafsu kita sendiri. Hawa nafsu yang tidak terkontrol sangatlah berbahaya, bahkan bisa merenggut jiwa seorang yang taqwa sekalipun.

(Syukur Alhamdulillah, Allah SWT memberi kita petunjuk untuk bagaimana kita bisa berlatih mengontrol hawa nafsu kita, yaitu salah satunya dengan berpuasa, tentunya dengan tujuan akhir takwa).

Adalah Habil (yang terbunuh), pribadi yang takwa, sedemikian kurbannya juga diterima. Disini dikisahkan, ketika Qabil mengancam akan membunuhnya, Habil berkata “aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”

Di sini Habil, memilih untuk bersabar dan berserah diri kepada Allah SWT, zat yang menghidupkan dan mematikan, dia takut hanya kepada Allah SWT, dia tidak main hakim sendiri (padahal melakukan pembelaan diri itu boleh, tapi sabar tentu lebih baik, Habil tidak takut akan ancaman, dia malah menjawab dengan hati penuh kelembutan). Karena meski pada akhirnya Qabil berhasil merenggut jiwa Habil, tapi justru Qabil yang merugi, karena dia membiarkan hawa nafsu nya menguasai, dan berbuat zalim.

Dari ayat di atas, bisa dilihat bahwa Allah mengutuk pembunuhan, dan sebaliknya dilukiskan contoh indah pribadi yang penuh ketenangan, kecintaan akan kedamaian, dan ketakwaan bahkan pada saat-saat genting sekalipun. Itulah, pribadi takwa yang diharapkan dimiliki setiap muslim. Memiliki perkataan yang dapat meredakan dendam, memadamkan kedengkian, meredakan keinginan jahat. Tapi meski demikian, saudara yang saleh ini memberikan peringatan “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuhku) dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka. Hal yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim” (Al Maa’idah: 29)

Berikutnya, dalam Al Maa’idah ayat 32, Allah SWT lebih menegaskan tentang hukum kemanusiaan ini.

Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan, barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudia banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi” (Al Maa’idah:32)

Meski redaksinya ditujukkan kepada Bani Israil (saat itu), tapi tentu nilainya tetap dan berlaku umum. Di sini lebih jelas ditekankan, betapa pembunuhan apa pun, diluar putusan pengadilan (qisas) adalah dosa yang sangat besar. Disini pembunuhan yang dimaksud (bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi) adalah pembunuhan selain qisas (keputusan pengadilan qisasa atas kasus pembunuhan atau qisas sebagai akibat berbuat kerusakan). Dimana membunuh satu jiwa, sama dengan membunuh manusia seluruhnya. Kenapa? Karena hak hidup itu adalah hak semua manusia, hak bersama yang dimiliki semua orang, maka pembunuhan berarti pelanggaran terhadap hak hidup itu sendiri. Membunuh satu orang, sama saja dengan membunuh seluruh manusia.

Dari ayat ini, dapat dilihat tidak ada yang sangat menghormati nyawa manusia selain orang islam. Maka tidak dibenarkan orang melakukan tindakan terorisme (memakai bom di tubuhnya untuk membunuh orang lain dengan alasan apa pun).

Begitu juga sebaliknya, « Dan siapa yang menghidupkan/menyelamatkan satu jiwa/kerusakan (seperti green peace act, menolong orang-orang tak mampu dll) maka seakan-akan menyelamatkan manusia seluruhnya. »

Disini dikatakan kalo menyelamatkan nyawa satu orang, pahala nya sama dengan menyelamatkan orang seluruhnya, apa alasannya?

Karena agama datang benar-benar untuk menyelamatkan manusia, tidak datang untuk saling mendendam, saling menyakiti. Agama datang untuk menghilangkan itu semuanya, makanya disini benar-benar tegas ditekankan bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh semuanya, dan menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan semuanya. Kenapa demikian?

Lihat Al Baqoroh 213 ; kaanannasu ummatan wahidatan karena manusia itu adalah umat yang satu, yang berbeda-beda itu hanya namanya saja, tapi hakekat kemanusiaan adalah satu. Dan karena umat yang satu, Allah membangkitkan nabi-nabi untuk mempertahankan kesatuan itu. Jadi agama islam itu memang agama kedamaian.

Kalau ada kelompok (yang mengaku islam) yang kerjaannya memfitnah, membunuh, mengajak orang menghancurkan orang lain, dan lantas mengatasnamakan islam, itu jelas-jelas bukan islam.

Lebih lanjut di jelaskan « ..Allah kemudian membangkitkan nabi-nabi pemberi kabar gembira (kalo bersatu dan berbuat kebaikan), peringatan (kalo berpecah belah dan berbuat kerusakan; neraka) maka kemudian allah menurunkan kepada manusia kitab suci yang berisi kebenaran supaya dijadikan hukum untuk menegakkan keadilan di tengah2 manusia atas apa yang diperselisihkan… »

Untuk apa perlu ada hukum? biar tidak saling fitnah. Kalau ada hukum, ada keragu-raguan akan tindakan tidak adil, sebaiknya dilaporkan saja ke pengadilan dan biarkan di selesaikan di pengadilan, jangan lantas bermain hakim sendiri, merusak dengan berdemo sambil membakar kantor-kantor dan merusak rumah-rumah. Tindakan demikian, jelas-jelas bertentangan dengan apa yang Allah SWT telah turunkan dalam Al Qur’an.

Sekali lagi, dari ayat di atas kita bisa simpulkan, betapa islam itu adalah pembawa kedamaian, dan sangat menentang tindakan-tindakan pengrusakan, baik itu pengrusakan alam ataupun pengurasakan terhadap hak-hak hakekat kemanusian.

Marilah kita, senantiasa lebih rajin lagi mempelajari Al Quran. Karena sungguh, nilai-nilainya berbicara, dan terbukti dengan sendirinya saat ini, padahal ia diturunkan lebih dari 1400 taun yang lalu. Adalah kerugian, jika kita tidak mempelajarinya, karena hanya dengan berpegang kepada Al Quran lah kita akan mampu mendapatkan kemenangan di dunia dan juga di akhirat.

Selamat mengisi puasa anda. Selamat berusaha menjadi pribadi yang super. Pribadi yang taqwa.

Jika ada kesalahan, kemungkinan besar datangnya dari saya, yang merangkum. Semoga bermanfaat….

Sumber

1. Muhammad Rusli Malik, Rekaman Pengajian LaTahzan, Jakarta, 27 May 2009

2. Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 3 (Surah An-Nisaa’71-Pengantar Surah Al An’aam), Gema Insani, Jakarta, 2002

Salam, Elin

July 21, 2008

Kembang Bantar Gebang

Filed under: Belajar Berbagi — Oshi @ 1:27 am

oleh Agung Dwi Hardiyanto

Adalah Rara, gadis yang Februari lalu genap berusia 16 tahun. Seorang perempuan dengan semangat mulia, ingin sekolah hingga selesai. . “Ra, gendong anaknya lancar, kok gak nikah aja ?” tanya saya. “Gak ah, mo sekolah dulu” ketika ditanya lebih jauh lagi, dia menjawab hanya dengan senyuman.

Sedikit menceritakan pengalamannya Hijrah ke Bantar Gebang – Komunitas pemulung – karena tidak ingin segera menikah. Dibesarkan dalam keluarga miskin dengan ayah yang mencari nafkah dari apa saja dan ibu yang berdagang gorengan sambil berkeliling di daerah Muara Gembong. Ayahnya pernah memintanya untuk menikah dengan alasan dapat membantu secara ekonomi. Gadis manis berkulit kuning ini menjawab dengan kabur dari rumahnya ke Bantar Gebang – rumah kakaknya – yang ternyata secara ekonomi cukup payah. Berapa penghasilan seorang pemulung ? tergantung jerih payah untuk mengambil barang-barang disampah yang nantinya dipilah-pilah, umumnya plastik

Saya menyempatkan melihat rumah yang menjadi tempat tidur ketika kantuk menyerang. Sangat sederhana, dinding yang terdiri dari potongan-potongan kayu bekas dengan atap seng berukuran 6 x 6 m, lantai tanah dan dihuni oleh 4 orang.

Rara adalah satu contoh anak negri yang sebenarnya ingin melanjutkan sekolah hingga ke jenjang lebih tinggi terutama di perguruan tinggi, namun apa daya karena faktor  ekonomilah mereka tidak mampu melanjutkan.

Pendidikan merupakan faktor penentu kemajuan suatu bangsa. Dari sanalah orang-orang besar bermunculan, sebut Sukarno. Beliau cukup berjasa dalam mendirikan Republik Indonesia bersama Bung Hatta. Pendidikan secara tekhnisnya ialah mengasah serta mengaktualkan kemampuan seseorang dalam segala hal.

Manusia merupakan makhluk unik Tuhan yang diciptakan untuk mengelola Semesta, tidak heran dari sini muncul spekulasi tentang Ke Maha Dahsyatan potensi yang dimiliki manusia. Ini semua akan memunculkan ketrampilan yang amat banyak.

Dalam kajian Psikologi tentang Jiwa disebutkan bahwa ternyata jiwa merupakan Primer dari Manusia. Artinya manusia tidak akan berharga bahkan merosot derajatnya ketika jiwanya tidak menjadi fokus perhatian karena bekal pendidikan sebenarnya difungsikan untuk menghidupkan jiwa sehingga mampu menghadapi kehidupan dengan beragam kompleksitas masalah. Dalam rumusnya

P = F / A

F = Beban

A = Luas

Artinya semakin besar beban yang bekerja maka dibutuhkan luas yang besar sehingga hasilnya akan Zero makna lainnya semakin seseorang menerima masalah namun diuraikan dengan keluasan atau kelapangan jiwa maka masalah atau hasil yang diperoleh menjadi zero atau tidak stress menjalani hidup.

Masyarakat Bantar Gebang – Komunitas pemulung – merupakan kaum miskin yang membutuhkan “resep” khusus pendidikan dikarenakan secara kultur, sosio-ekonomi berbeda dengan komunitas lainnya. Pendekatannya bukan sekedar memakmurkan secara ekonomi melainkan menguatkan sisi jiwa nya dengan menyajikan sebuah pendidikan yang punya muatan spiritual. Contohnya, bagaimana pelajaran matematika, fisika, biologi dll dapat mendekatkan seseorang kepada Sang Penguasa Semesta atau melakukan PERGERAKAN VERTIKAL, jiwa melanglang buana meski tubuh tetap di bumi

Ketika jiwa sudah merdeka Rara dan teman sebayanya akan mengatakan “tidak” terhadap Rezim Despotik, Korupsi, dan tindak lalim lainnya yang notabene akan memanfaatkan kaum miskin untuk kepentingan sesaat karena tidak terikat siapapun dan apapun kecuali SUMBER KEBERADAAN.

Wallahu’alam

Bantar Gebang, 20 Juli 2008

May 8, 2008

Seputar Falsafah Kenabian

Filed under: Hikmah — Oshi @ 9:45 am

dirangkum dari Kajian Rhaudah, Ustad Bagir, 04/05/2008
disalin oleh Elin

Apa sih hakikat wahyu yang diturunkan kepada Nabi?

Apakah hakikat wahyu? Wahyu berasal dari Tuhan yang diturunkan kepada Nabi berisi tentang hakikat-hakikat ke-Tuhan-an (divine realities / al haqoiq illahiyyah) dan hal-hal yang mengutuhkan eksistensi manusia. Oleh karena itu, kehadiran Nabi di dunia menjadi wajib adanya (the necessity of prophethood), sebagai bentuk ke-maha adilan-Nya. Karena tanpa ada hal ini manusia tidak bisa hidup dan eksis secara total sebagai manusia sesungguhnya (kebutuhan primer manusia).

Bagaimana sih wahyu diturunkan?

Nabi menerima wahyu secara spiritual ke dalam qalbu-nya (wa nazzala fiihi ruhul amin ‘ala qalbika), sedemikian divine realities ini (hakikat-hakikat illahiyyah) ini dimanifestasikan/di’tajalli’kan dalam level ruhani bukan fisik. Oleh karena itu, manusia lain tidak dapat mengetahui atau mendeteksi proses turunnya wahyu tersebut, karena qalbu bersifat sangat pribadi.

Bagaimana cara meng-identifikasi Nabi / penerima wahyu?

Salah satu cara untuk membuktikan kenabian seseorang itu adalah mukjizat (fauqul ‘adah). Pertanyaan berikutnya adalah apakah hakikat mukjizat itu? Fauq (diatas/beyond) al ‘adah (adat/kebiasaan). Jadi secara literal mukjizat adalah sesuatu yang diluar kebiasaan. Muncul lagi pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan biasa? Bagaimankah konsep diluar kebiasaan ini sebenarnya agar bisa didefinisikan sebagai mukjizat. Nabi Sholeh mukjizatnya ‘unta keluar dari batu’, itu adalah salah satu contoh fauqul ‘adah. Dalam teologi fauqul ‘adah itu:

1- No precedent (sebelumnya tidak ada orang yang pernah melakukan hal itu/ke belakang).

2- No repetition (di masa depan tidak akan ada orang yang melakukan hal yang sama/ tidak terulang).

3- No learning process (tidak ada proses belajar, tidak bisa dipelajari).

Jadi secara singkat, mukjizat adalah hal-hal yang diluar kebiasaan, belum pernah ada yang melakukannya dan tidak akan ada yang mampu mengulangi serta tanpa proses relajar. Contoh mukjizat Nabi Muhammad Saw adalah Al Qur’an, membelah saqul qamar (bulan); bisa dibuktikan bahwa dua-duanya adalah mukjizat. Dua hal tersebut tidak pernah ada yang melakukannya, tidak akan terulang dan tanpa melalui proses belajar.

Lebih jelas lagi tentang mukjizat?

Secara jenis, mukjizat terbagi dua:

1- Mukjizat qauli (transmitif, ilmiah,disampaikan lisan); Contohnya Al Qur’an. Bahasanya yang sangat istimewa. Sebagian ada yang menyebut bahwa yang menyebabkan Al Qur’an dikatakan sebagai mukjizat adalah karena Tuhan berbicara dalam bahasa manusia (pembicaraan Tuhan dalam bahasa manusia). Mukjizat qauli adalah bukti untuk orang-orang intelektual (karena orang intelektual tidak gampang di permainkan dengan hal-hal bersifat luar biasa dari segi perbuatan).

2- Mukjizat fi’li (perbuatan yang dilakukan); seperti mukjizatnya Nabi Sholeh dimana unta keluar dari batu, Nabi Musa dimana lautan terbelah. Nabi Muhammad Saw yang membelah bulan. Ini adalah bukti untuk orang-orang awam. Terjadinya sekali, sekedar untuk membuktikan kenabian beliau. Nabi tidak menginginkan seseorang beriman hanya karena melihat hal yang luar biasa saja.

Bagaimana sikap kita jika ada orang yang mengaku sebagai Nabi?

Jadi jika ada seseorang mengaku sebagai Nabi kita tinggal tanya dia untuk membuktikan mukjizat fi’li dan qauli-nya. Pada zaman Nabi banyak yang mengaku sebagai Nabi. Ada diantaranya seorang yang mengaku sebagai Nabi, kemudian Nabi Muhammad Saw meminta dia untuk menunjukkan mukjizat fi’li nya dengan menaikkan permukaan air sungai. Tapi ternyata dia tidak mampu, yang ada malah permukaan air sungainya turun. Nabi pada saat itu tidak berbuat apa-apa lagi, karena terbukti dengan sendirinya kalau dia bukanlah Nabi. Tapi Nabi tidak pernah menyatakan bahwa “darahnya halal” karena itu, atau rumahnya boleh dirusak (seperti yang dilakukan segelintir orang atau golongan di negeri ini). Nabi tidak pernah mengajarkan kita untuk agresif, karena menentukan kebenaran itu tidak boleh agresif. Karena apa? Karena ada ‘lakum diinukum waliyadin’. Tidak mungkin ada ayat ini jika kita dituntut untuk agresif. Sekali lagi islam itu rahmatan lil’alamin, tidak mengenal sikap agresif dan main hakim sendiri.

December 21, 2007

Pernikahan Intan-Dhani

Filed under: Pernikahan LT-ers — laatahzan @ 10:16 pm
Undangan

Bismillahirrahmânirrahîm

Assalâmu’alaykum wa rahmatullahi wa barakâtuh

Dengan memohon Rahmat dan Ridho Allah Swt
Kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan putra-putri kami

INTAN KEMALA DEWI
dengan
IBNU SURYA MARDHANI

yang Insya Allah akan diselenggarakan:
Selasa, 8 Januari 2008
Pukul 11.00 WIB-selesai
Jl.SKB no 385
Kutacane Aceh Tenggara

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami
apabila Bapak, Ibu, Saudara atau Saudari berkenan hadir untuk memberikan restu pada putra-putri Kami

Wassalâmu’alaykum wa rahmatullahi wa barakâtuh

Next Page »

Blog at WordPress.com.